Rabu, 05 NOVEMBER 2025 • 13:56 WIB

Ulat Sagu Papua: Kuliner Ekstrem yang Kaya Protein dan Kini Mendunia

Author

Sate Ulat Sagu Papua (Sumber: bing.net)

INDOZONE.ID - Papua dikenal memiliki kekayaan kuliner yang unik, salah satunya adalah ulat sagu, atau larva kumbang penggerek pohon sagu (Rhynchophorus sp.). Meski dianggap ekstrem, ulat sagu sudah lama menjadi bagian penting dari pangan tradisional masyarakat Papua dan kini mulai meraih perhatian internasional.

Apa Itu Ulat Sagu dan Bagaimana Cara Mengolahnya?

Ulat sagu hidup di dalam batang pohon sagu yang sudah lapuk dan terkubur. Setelah batang itu ditebang dan dibiarkan membusuk, larva berukuran 3–5 cm akan bermunculan dan siap dipanen. Masyarakat lokal biasa mengolahnya menjadi sate ulat sagu, ulat yang telah dibersihkan, ditusuk seperti sate, lalu dibakar dengan bumbu rempah khas Papua seperti bawang, cabai, dan kunyit.

Baca juga: Mengenal Tow Pok Mbu, Ritual Pesta Makan Ulat Sagu Suku Asmat Papua

Kandungan Gizi Tinggi

Para peneliti menyebut ulat sagu sangat bergizi. Dalam kondisi basah, larva ini mengandung sekitar 11,5% protein dan 18,3% lemak dari total beratnya, dengan kadar air sekitar 67%. Versi keringnya juga mengandung 181 kalori, 6–7 gram protein, dan 13 gram lemak per 100 gram. Selain energi dan protein, ulat sagu juga memberikan mineral seperti kalsium, zat besi, vitamin B12, serta asam amino esensial seperti lisin, metionin, dan aspartat.

Warisan Budaya dan Ketahanan Lokal

Ilustrasi ulat sagu (Freepik)

Bagi suku Kamoro dan masyarakat adat lain di Papua, ulat sagu bukan sekadar makanan, melainkan simbol ketahanan dan identitas budaya. Dalam berbagai ritual adat, ia bahkan menjadi bagian dari hidangan pesta panen dan penyambutan tamu kehormatan.

Kini Mendunia, Tantangan dan Peluang

Belakangan, ulat sagu menjadi daya tarik wisata kuliner ekstrem. Wisatawan dari berbagai wilayah tertarik mencobanya, dan beberapa restoran mulai menyajikan sate ulat sagu sebagai menu khas Papua.

Meski demikian, ulat sagu tetap menghadapi tantangan: persepsi masyarakat yang masih menganggapnya menjijikkan, isu kehalalan bagi sebagian umat, serta potensi dampak ekologis jika panen dilakukan secara tidak terkendali. Namun, penelitian terus berkembang untuk menjadikan ulat sagu sebagai pangan alternatif yang bergizi dan berkelanjutan, terutama dalam bentuk tepung ulat sagu yang bisa dijadikan bahan tambahan untuk papeda atau pakan ternak.

Baca juga: Sate Ulat Sagu, Kuliner Ekstrem Papua yang Bikin Merinding Tapi Ketagihan!

Ulat sagu telah membuktikan dirinya lebih dari sekadar hidangan ekstrem. Ia adalah sumber protein penting, warisan budaya, sekaligus peluang kuliner masa depan. Jika dikelola dengan bijak, ulat sagu bukan hanya memperkaya citra kuliner Indonesia, tetapi juga mendukung ketahanan pangan lokal serta keberlanjutan pangan di bumi Papua.

Sudah siap mencicipi rasa gurih dan khasnya? Jangan lupa untuk menikmatinya dengan rasa hormat terhadap budaya dan alam yang telah meletakkannya di piring kita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Indonesiakaya.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU