INDOZONE.ID - Bukan hanya pesona matahari terbit yang bikin Gunung Bromo ramai didatangi wisatawan.
Di balik lautan pasir dan udara dingin pegunungan, ada satu daya tarik lain yang tak kalah menggoda—bahkan cukup ekstrem untuk ukuran lidah kebanyakan orang: Sate landak.
Ya, Kamu nggak salah baca. Dikenal karena durinya yang tajam, daging landak justru diolah menjadi sajian bakar yang memancing rasa ingin tahu banyak wisatawan.
Meskipun terdengar mengerikan, kuliner ini justru dicari-cari oleh pengunjung yang ingin menjajal pengalaman makan yang tak biasa.
Dimasak dengan teknik tradisional, sate landak disajikan dengan sambal pedas dan nasi hangat—menggoda sekaligus bikin deg-degan.
Baca juga: Resep Ayam Bakar Rumahan ala Chef Tirta dan DapurMasak
Petualangan Rasa di Tengah Dingin Bromo
Bromo memang identik dengan keindahan alamnya, tapi tidak banyak yang tahu kalau kawasan ini juga menyimpan kekayaan kuliner khas pegunungan.
Salah satu spot yang populer untuk mencicipi sate landak berada di sekitar kawasan Tosari, Pasuruan, tepatnya di warung-warung lokal yang dikelola warga sekitar.
Tempat ini sering menjadi lokasi persinggahan favorit para pendaki—baik sebelum memulai pendakian maupun setelah turun gunung untuk mengisi energi kembali.
Bagi sebagian orang, menyantap daging landak bisa menjadi tantangan tersendiri.
Tidak hanya karena hewannya yang tergolong liar dan tidak umum dikonsumsi, tetapi juga karena stigma sosial terhadap makanan ekstrem.
Namun buat para pencinta sensasi baru, sate ini justru menjadi trofi kuliner: "Kalau belum coba, belum sah ke Bromo."
Baca juga: Resep Muffin Matcha yang Lembut dan Enak, Gampang Banget Dibuat!
Cita Rasa Tak Terduga
Lalu, seperti apa sebenarnya rasa daging landak?
Dagingnya cenderung empuk, mirip daging kambing muda, namun dengan tekstur yang lebih berserat.
Aromanya tidak terlalu amis, apalagi jika dibakar dengan bumbu kacang atau kecap pedas.
Justru yang bikin penasaran adalah sensasi setelah digigit—ada rasa smoky dan sedikit manis, khas bumbu bakaran lokal.
Banyak yang bilang, sensasi makannya jadi lebih intens karena dipadukan dengan suasana dingin khas Bromo.
Hidangan ini biasanya dijual dalam bentuk tusukan sate dengan harga berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 per porsi, tergantung ukuran dan jenis bumbu yang digunakan.
Baca juga: Bikin Penasaran! 12 Makanan Unik dengan Penyajian Paling Aneh di Dunia
Di Balik Sensasi, Ada Kontroversi
Sebagai kuliner ekstrem, tentu tak sedikit yang mempertanyakan aspek keberlanjutan dan etika di balik konsumsi daging landak.
Meski di beberapa daerah hewan ini masih ditangkap dari alam liar, kini beberapa penjual mengklaim bahwa mereka memperoleh daging dari peternakan khusus, bukan dari hasil perburuan ilegal.
Namun demikian, wacana ini tetap menuai pro-kontra dan menjadi bahan diskusi di kalangan pencinta satwa.
Terlepas dari itu, banyak wisatawan tetap memilih mencicipi satu tusuk demi menuntaskan rasa ingin tahu.
Beberapa warung bahkan kehabisan stok karena permintaan yang tinggi, terutama saat musim liburan atau akhir pekan.
Baca juga: Masak Bareng Dua Budaya: Siomay Indonesia vs Dimsum Tiongkok
Lebih dari Sekadar Kuliner
Menyantap sate landak bukan sekadar soal keberanian, tapi juga pengalaman rasa yang unik dan tak biasa bagi banyak orang.
Bagi sebagian besar pengunjung, ini adalah bagian dari pengalaman menyeluruh ketika bertualang ke Bromo.
Mulai dari mengejar sunrise, menaklukkan pasir berbisik, hingga merasakan cita rasa lokal yang tidak biasa.
Semuanya menciptakan narasi petualangan yang lengkap dan berkesan.
Kalau Kamu termasuk yang senang menjajal hal-hal baru dan siap menguji nyali, mungkin ini saatnya menambahkan sate landak ke dalam daftar incaranmu saat ke Bromo.
Tapi ingat, pastikan Kamu membelinya dari tempat yang terpercaya dan tetap mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam konsumsi makanan ekstrem ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Hellobromoindonesia.com