Sabtu, 19 JULI 2025 • 17:05 WIB

Geplak Bantul: Si Manis Warna-Warni yang Kian Langka di Tengah Serbuan Camilan Modern

Author

Penampakan Makanan Geplak dari Bantul (Z Creators/Rahmat Wibowo)

INDOZONE.ID - Di tengah gempuran tren camilan kekinian yang serba viral, ada satu jajanan tradisional yang tetap memikat lewat kesederhanaannya. 

Namanya geplak, kudapan manis khas Bantul, Yogyakarta, yang dikenal dengan warna-warna cerah dan rasa legit dari parutan kelapa serta gula.

Sekilas, geplak tampak simpel dengan bentuk bulat pipih, balutan kelapa, dan warna-warna mencolok seperti merah muda, kuning, hijau, atau putih yang langsung menarik perhatian. 

Namun di balik penampilannya yang ceria, tersembunyi jejak sejarah panjang dan filosofi lokal yang masih lekat dengan budaya masyarakat Jawa.

Baca juga: Barongko: Kue Pisang Lembut Warisan Kerajaan Bugis yang Kini Terancam Dilupakan

Dari Dapur Rakyat hingga Oleh-Oleh Khas Yogyakarta

Geplak muncul sebagai makanan rakyat sejak zaman dulu. Bahan dasar geplak sangat mudah ditemukan, yakni kelapa, gula pasir atau gula kelapa, serta pewarna alami untuk memberi tampilan yang menarik. 

Dulunya, geplak dibuat sebagai alternatif camilan manis bagi masyarakat pedesaan yang belum memiliki akses terhadap makanan modern. 

Parutan kelapa tua yang telah dicampur dengan cairan gula panas kemudian dibentuk sesuai ukuran, lalu didiamkan hingga mengeras dan siap dinikmati.

Seiring berjalannya waktu, geplak menjelma menjadi salah satu ikon kuliner khas Bantul yang kerap dijadikan oleh-oleh oleh para wisatawan. 

Tak hanya dijajakan di pasar tradisional, geplak juga banyak ditemukan di toko oleh-oleh sepanjang Jalan Parangtritis atau kawasan Malioboro, Yogyakarta.

Baca juga: Resep Pesmol Gurame ala Paula Tobing dari Sedapur.com

Cita Rasa Unik yang Tak Lekang oleh Zaman

Rasa manis yang kuat menjadi ciri khas geplak. Namun jangan salah, teksturnya tidak sekadar keras seperti permen. 

Geplak yang dibuat dengan proporsi tepat justru menghasilkan tekstur yang lembut saat digigit, namun tetap padat. 

Wangi kelapa yang harum menyatu dengan rasa gula, menciptakan sensasi yang khas dan autentik, tidak bisa disamakan dengan kudapan manis lain mana pun.

Meskipun banyak orang modern cenderung menghindari makanan manis, geplak tetap punya tempat tersendiri di hati para penikmat jajanan tradisional. 

Bahkan, beberapa produsen kini mulai membuat inovasi varian rasa seperti durian, cokelat, hingga pandan untuk menarik perhatian generasi muda.

Baca juga: Nasi Campur Bali ala Chef Mangku, Resep Tradisional yang Penuh Cerita

Warna-Warni Ceria Bukan Sekadar Estetika

Salah satu hal yang membuat geplak begitu menarik adalah tampilan warnanya yang cerah dan mencolok. 

Dulu, warna-warna cerah pada geplak diperoleh dari bahan pewarna alami, kunyit digunakan untuk menghasilkan warna kuning, sementara daun suji memberikan sentuhan hijau alami. 

Warna cerah pada geplak bukan hanya sekadar estetika, tetapi juga menjadi simbol keceriaan dan semangat masyarakat dalam menyajikan makanan.

Secara tak langsung, warna-warna itu juga menjadikan geplak sebagai hidangan khas pada perayaan tradisional, hajatan, dan seserahan pernikahan. 

Kehadiran geplak bukan hanya sebagai camilan manis, tetapi juga sebagai simbol kehangatan dan kebersamaan dalam tradisi masyarakat.

Baca juga: Gohu Ikan: Sashimi ala Ternate yang Segar, Pedas, dan Bikin Nagih!

Terancam Punah, Tapi Masih Bisa Diselamatkan

Di era ketika camilan viral datang silih berganti dan selera konsumen bergeser ke arah yang lebih modern, eksistensi geplak memang mulai terpinggirkan. 

Banyak generasi muda bahkan tak mengenal rasa geplak, apalagi cara membuatnya. 

Minimnya regenerasi pembuat geplak membuat jajanan ini masuk kategori kuliner terancam punah, terutama yang dibuat dengan cara tradisional.

Meski demikian, beberapa upaya pelestarian mulai muncul. Pemerintah daerah dan pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Yogyakarta gencar mempromosikan geplak melalui festival kuliner dan pelatihan membuat geplak untuk generasi muda. 

Beberapa toko oleh-oleh juga mulai mengemas geplak dengan desain lebih modern agar menarik pembeli dari luar daerah.

Baca juga: Resep Bubur Ayam: Gurih, Lembut, dan Bikin Nagih!

Penasaran Coba? Ini Cara Menikmati Geplak dengan Lebih Seru

Kalau kamu berkunjung ke Yogyakarta, cobalah mampir ke pasar tradisional di Bantul atau toko oleh-oleh lokal untuk merasakan geplak yang dibuat langsung oleh tangan-tangan pengrajin. 

Geplak paling nikmat disantap bersama secangkir teh pahit atau kopi hitam — kombinasi yang mampu menyeimbangkan rasa manisnya.

Buat yang tidak sempat ke Yogyakarta, geplak juga sudah mulai dijual secara online, meski cita rasa dan teksturnya tentu tidak seotentik buatan lokal. 

Namun setidaknya, langkah ini bisa menjadi upaya memperkenalkan kekayaan kuliner tradisional kepada lebih banyak orang.

Geplak bukan sekadar jajanan. Ia adalah bagian dari identitas budaya yang patut dirawat. 

Di balik warna-warninya yang ceria, tersimpan cerita tentang kreativitas, kebersahajaan, dan cinta masyarakat Jawa terhadap makanan yang mengakar kuat pada tradisi. 

Jangan sampai geplak hanya jadi cerita nostalgia, sementara generasi berikutnya tak lagi mengenalnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Taste Atlas

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU