INDOZONE.ID - Ada aroma yang gak bisa ditiru yaitu wangi manis dodol yang dibuat dari adukan jenang berjam-jam dengan kayu bakar. Suara adukan sangat konsisten dengan percikan kecil dari kuali besar dan gelak tawa keluarga uang membuat seakan menjadi bahan resep rahasia tidak tertulis.
Walaupun zaman terus berubah makan seperti ini tetap ada di hati dan lidah masing-masing.
Sebelum dodol dikemas cantik, dipajang di toko oleh-oleh, makanan ini sudah tercatat ke kitab sastra dan prasasti kuno.
Kakawin Ramayana dari abad ke-9, prasasti Sangguran, dan prasasti Gemekan semua nya menyebut "dwadwal" sebagai bagian sajian masyarakat zaman medang. Bayangkan berapa lama dodol sudah menemani peradaban di nusantara.
Baca Juga: Lebaran Abad Ke-19: Kala Opak dan Dodol Menghiasi Meja Jamuan Kolonial
Bahkan di Srilanka pun punya versi dodol sendiri bernama kalu dodol, yang dibawa oleh pedagang Melayu berabad-abad lalu.
Tapi dodol bukan cuma makan belaka, dia adalah cerita tentang masyarakat zaman dulu. Proses pembuatan butuh waktu yang lama, tenaga, dan kesabaran.
Semuanya harus di aduk gak boleh berhenti seperti gak gosong. Kalo jenang biasanya lebih basah tekstur nya. Setiap keluarga punya versi dan cara sendiri agar punya Setiap gigitan menjadi personal.
Sekarang, semuanya serba instan. Siapa sangka dodol dan jenang kembali populer di kalangan muda yang pasti di olah lagi menjadi oleh-oleh modern. Ada dodol rasa matcha, kemasan yang unik, dan video tiktok agar bisa memikat pembeli.
Baca Juga: Keren Pisan Euy! Dodol Garut, Burayot dan Ngawuwuh Masuk Warisan Budaya Tak Benda
Banyak pelaku UMKM muda milih mengenalkan makan dapur nenek mereka dan hasilnya laris manis.
Mungkin ini bukan soal makanan dan rasa saja tapi melainkan nostalgia masa kecil, nilai budaya, dan rasa hangat yang gak bisa dijelaskan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ensiklopedi Umum