INDOZONE.ID - Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa lauk sarapan paling populer di Indonesia, telur goreng dengan kuning yang masih utuh di tengah, dinamakan "telur mata sapi"?
Padahal, jika diperhatikan baik-baik, bentuknya sama sekali tidak mirip dengan mata sapi sungguhan, melainkan lebih mirip telur goreng biasa aja!
Asumsi bahwa penamaan ini didasarkan pada kemiripan visual yang dangkal ternyata meleset jauh. Di balik istilah sederhana ini, tersembunyi sebuah perjalanan linguistik dan budaya yang menarik, yang membawa kita melintasi lautan dari Eropa hingga ke dapur-dapur di Indonesia.
Baca juga: Resep Telur Ceplok Tahu Kecap, Menu Makan Malam Simpel Pas Disantap dengan Nasi Hangat
Ternyata, istilah "telur mata sapi" bukanlah penamaan asli Nusantara. Ini adalah hasil dari proses penyerapan bahasa dan budaya yang terjadi selama masa penjajahan Belanda di Indonesia.
Akar dari penamaan ini sebenarnya berasal dari Prancis. Dalam bahasa Prancis, istilah untuk telur goreng dengan kuning yang utuh dan "menonjol" adalah "Oeil de Boeuf".
Oeil sendiri memiliki arti, yakni mata. Sementara Boeuf berarti banteng atau lembu jantan atau kadangkala diterjemahkan sebagai sapi.
Jadi, secara harfiah, "Oeil de Boeuf" diterjemahkan sebagai "Mata Banteng". Penamaan ini didasarkan pada kemiripan visual kuning telur yang bulat dan menonjol di tengah putih telur yang mengelilinginya, yang secara abstrak menyerupai mata seekor banteng yang besar dan melotot.
Baca juga: Resep Nasi Telur Ceplok Wangi Lezat dan Praktis, Cocok untuk Anak Kos
Orang-orang Belanda yang menguasai Indonesia selama ratusan tahun, secara otomatis membawa serta budaya dan bahasa mereka, termasuk kuliner. Di dapur-dapur kolonial, resep dan istilah makanan Eropa mulai dikenal oleh penduduk pribumi yang bekerja sebagai juru masak atau pelayan.
Alih-alih menyerap suaranya (seperti kata "bistik" dari "beefsteak"), mereka menerjemahkan makna kata per kata. "Oss" (sapi) dan "oog" (mata) diartikan secara langsung menjadi "mata sapi".
Meskipun kata "Bœuf" di Prancis berarti banteng, dalam bahasa Belanda "Oss" sering kali merujuk pada sapi atau lembu jantan.
Di Indonesia, kata "sapi" jauh lebih umum dan familiar digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan kuliner dibandingkan "banteng" atau "lembu".
Oleh karena itu, penerjemahan harfiah "Osseoog" menjadi "mata sapi" dirasa lebih wajar dan mudah diterima oleh lidah dan budaya masyarakat Indonesia pada masa itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan