Lontong Cap Go Meh. (Instagram/@lontongcapgomeh_17)
INDOZONE.ID - Imlek di Indonesia identik dengan perayaan yang meriah penuh dengan makna, tradisi, dan simbol.
Selain menghias rumah dengan lampion merah dan berkumpul bersama keluarga, momen perayaan Imlek juga erat dengan beragam kuliner khas. Setiap kuliner dalam perayaan Imlek identik dengan keberuntungan dan kemakmuran.
Lontong Cap Go Meh. (Instagram/lontongcapgomeh_17)
Di tengah ragam hidangan yang disajikan selama perayaan Imlek, salah satu yang unik adalah lontong Cap Go Meh.
Makanan ini lahir dari perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara, sekaligus menjadi simbol perayaan Cap Go Meh yang jatuh 15 hari setelah Imlek.
Baca juga: Resep Unstuffed Peppers: Praktis, Lezat, dan Bergizi
Puncak dari kemeriahan Tahun Baru Imlek ditandai dengan perhelatan Cap Go Meh, yang berarti malam kelima belas dalam dialek Hokkien.
Cap Go Meh dirayakan tepat saat bulan purnama pertama berdasarkan penanggalan lunar.
Puncak perayaan tersebut dimeriahkan dengan lentera warna-warni, musik pengiring barongsai, hingga tradisi menyantap hidangan khas seperti mi panjang umur dan lontong Cap Go Meh yang kaya akan makna.
Akar sejarah tradisi ini sudah lama lahir sejak era Dinasti Han di Tiongkok ribuan tahun silam.
Pada awalnya, penyalaan lampion merupakan ritual keagamaan para biksu untuk memuliakan sang Buddha pada hari ke-15 di awal tahun penanggalan lunar.
Namun, seiring berjalannya waktu, praktik ini kemudian diserap oleh masyarakat umum dan berkembang menjadi pesta rakyat yang tersebar hingga ke berbagai wilayah di Asia, termasuk Indonesia.
Baca juga: Jangan Sampai Disita! Ini Daftar Barang yang Tidak Boleh Dibawa ke Kabin Pesawat
Lontong Cap Go Meh bukan sekadar kuliner, melainkan juga jejak sejarah dan budaya. Hidangan ini diyakini lahir dari ide komunitas Tionghoa di Indonesia, dalam menyesuaikan masakan mereka dengan cita rasa lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Binus.ac.id, Indonesia Travel