INDOZONE.ID - Apa yang terlintas di benak kamu saat mendengar kata Papua? Bagi banyak orang, Papua dikenal sebagai “surga kecil yang jatuh ke bumi”, dan setelah melihat langsung, julukan itu memang pantas disandang.
Perjalanan ini dimulai dari Bandung, dini hari buta. Mata masih berat, tapi semangat sudah membuncah.
Dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta butuh waktu sekitar 2–3 jam. Setelah check-in yang sedikit menegangkan karena antrean bagasi, tibalah saatnya untuk penerbangan super panjang: sekitar 6 jam, dengan transit sebentar di Makassar, sebelum akhirnya mendarat di Sorong, gerbang utama menuju Raja Ampat.
Baca Juga: Situs Megalitik Tutari: Jejak Prasejarah Papua dengan Potensi Wisata yang Cukup Besar
Tiba di Sorong: Kota Laut dan Kuliner Lezat
Sorong, kota terbesar kedua di Papua setelah Jayapura, menyambut dengan hangat. Sesuai kebiasaan setiap kali sampai di tempat baru, pencarian kuliner khas jadi prioritas.
Di sini, salah satu menu andalan adalah rahang tuna, bagian ikan yang biasanya jarang ditemui di tempat lain.
Ukurannya besar, dibakar dengan bumbu khas, dan disajikan bersama nasi putih. Rasanya? Nggak main-main! Sambal baladonya pas, tidak terlalu pedas, tapi mantap di lidah.
Tempat makannya pun unik. Republic Seafood dulunya adalah bengkel yang disulap jadi restoran karena saking ramainya pengunjung. Soal harga, cukup bersahabat, mulai dari Rp40 ribuan. Pembayarannya pun bisa cashless lewat QRIS, cocok buat traveler zaman now.
Menyusuri Pasar Ikan Sorong
Pagi harinya, mampir ke pasar ikan di Sorong jadi pengalaman menarik. Di sinilah tempat keluar-masuknya ikan segar hasil tangkapan dari kapal-kapal bagan.
Tuna-tuna raksasa dipotong dengan cepat dan dijual ke warung-warung, bahkan ada yang diekspor ke Jepang dan Singapura.
Menembus Gelombang Menuju Kali Biru
Petualangan dilanjutkan dari pelabuhan Marina dengan speedboat menuju Kampung Warsambin di Distrik Teluk Mayalibit. Perjalanan laut sekitar 2–3 jam ini jadi lebih seru karena gelombang tinggi, angin kencang, dan pemandangan pulau-pulau karang di sepanjang jalan.
Sesampainya di Warsambin, perjalanan berlanjut dengan perahu kecil menyusuri sungai menuju Kali Biru, surga tersembunyi di tengah hutan Papua. Di sini, airnya begitu jernih dan dingin, dikelilingi tebing karst yang menjulang tinggi.
Tracking ringan dilakukan menyusuri sungai dangkal, dan yang menarik: airnya bisa langsung diminum karena berasal dari mata air pegunungan murni.
Menikmati Pemandangan Teluk Kabui dari Puncak Marindal
Perjalanan berlanjut ke Teluk Kabui, kawasan penuh gugusan pulau-pulau karang yang sering dijuluki sebagai miniatur Raja Ampat.
Dari atas Puncak Marindal yang berketinggian 70–100 meter di atas permukaan laut, pemandangan laut dan pulau kecil begitu menakjubkan. Konon, daerah ini juga kaya akan sejarah dan budaya masyarakat adat setempat.
Menginap di Waigeo dan Menyusun Rencana Lanjut
Hari mulai gelap, dan tempat bermalam dipilihlah Rafl Resort Raja Ampat yang langsung menghadap ke laut. Setelah perjalanan panjang dan menyegarkan ini, masih banyak tempat yang bisa dieksplor—entah ke Manokwari, Biak, atau mungkin Sentani. Semuanya tergantung sisa dana dan arah petualangan selanjutnya.
Perjalanan ke Raja Ampat ini bukan cuma soal liburan, tapi juga tentang menyelami keindahan alam dan budaya Indonesia yang begitu kaya. Jadi, buat kamu yang masih ragu ke Papua karena stigma negatif, buang jauh-jauh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Arsal Bahtiar