INDOZONE.ID - Kabupaten Tasikmalaya, memiliki luas wilayah 2.708,82 km persegi, dengan 39 kecamatan dan terdiri dari 351 desa. Dengan begitu, luasnya Kabupaten Tasikmalaya menyimpan wisata alam yang memukau, kerajinan tangan yang menarik bahkan tradisi- tradisi yang masih dirawat.
Di salah satu kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, ada salah satu kampung yang masih merawat serta menjaga tradisi budaya yang sudah ada turun temurun, yaitu kampung Naga, salah satu kampung dengan nama unik, menjadi bagian dari Kabupaten Tasikmalaya yang masih merawat tradisi budayanya.
Sebuah kampung yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya ini memiliki luas wilayah kurang lebih 4 hektar, yang meliputi lahan pertanian, area hutan, pemukiman dan tempat-tempat suci.
Dengan berpenduduk 100 kepala keluarga, Kampung Naga terdapat sekitar 110 bangunan, 108 di antaranya dihuni dengan rumah berbentuk rumah panggung dengan dinding anyaman bambu, lantai papan kayu, dan atap dari ijuk.
Nama kampung “Naga” berasal dari kata Sunda “Nagawir” yang berarti kampung yang berada di bawah tebing terjal. Istilah ini berasal dari bahasa Sunda, bukan berasal dari mitologi Naga Tiongkok.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Wisata di Tasikmalaya, Cocok untuk Liburan Panjang!
Sesuai dengan namanya, Kampung Naga memiliki keunikan untuk mengunjunginya, dengan menuruni 439 sangked atau anak tangga yang sudah disemen, dengan kemiringan 45 derajat. Untuk masuk dan keluar Kampung Naga ini memerlukan sedikit perjuangan untuk menapaki setiap anak tangganya. Kampung Naga dihubungkan langsung dengan Sungai Ciwulan yang beraliran deras, sungai ini berhubungan dari Gunung tertinggi di Jawa Barat yaitu Gunung Cikuray.
Kampung Naga memiliki tradisi yang sangat dirawat dengan baik, bahkan dengan sangat di jaganya dari segala hal baru yang datang, masyarakatnya sangat menolak.
Pada 1956 silam, sempat ada salah satu organisasi yang ingin masuk ke Kampung Naga ini yaitu DI/ TII tapi tidak diterima baik oleh masyarakat, hingga akhirnya Kampung Naga dibakar dan hilanglah sejarah Kampung Naga ini.
Dari beberapa kejadian yang terjadi di masa lalu, masyarakat lebih ketat menjaga tradisinya. Bahkan tanpa adanya listrik yang mengelilinginya, mereka menikmati teknologi seperti televisi dan radio menggunakan aki yang dihubungkan dengan kabel, karena mereka berpikir bahwa listrik akan berdampak tidak baik bagi kehidupan mereka.
Selain sangat menjaga tradisi, Kampung Naga juga sangat kaya akan hasil tani untuk mereka nikmati, masyarakatnya sangat menjaga kealamian dari Kampung Naga ini, bahkan masyarakat tidak boleh sembarangan menebang pohon yang ada di Bukit Naga dan Bukit Biuk karena dianggap sebagai sumber air bagi mereka.
Baca Juga: 4 Upacara Adat Unik di Kampung Naga Tasikmalaya, Sampai Ada Saweran
Para Karuhun Kampung Naga memberikan petuah "Lojor teu beunang disambung, pondok teu beunang disambung" yang memiliki arti menjaga dan melestarikan alam, hidup akan berlangsung lebih alami.
Sampai saat ini, Kampung Naga masih terjaga kelestarian dan kealamiannya. Bahkan seringkali menjadi wisata edukasi bagi para pelajar hingga masyarakat umum yang penasaran dengan Kampung Naga ini.
Penasaran? Yuk Kunjungi!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesia.go.id