Rabu, 01 JULI 2026 • 17:01 WIB

Mengenal Sapta Pesona, 7 Kunci Rahasia yang Bikin Wisatawan Betah Berlama-lama

Author


Wisatawan mancanegara mengunjungi Desa Kemiren Banyuwangi. (Instagram/@desa_kemiren)

INDOZONE.ID - Pernah bertanya-tanya mengapa di suatu destinasi wisata, wisatawan merasa begitu terbuka dan nyaman untuk dikunjungi, sedangkan di destinasi wisata yang lain, begitu sebaliknya, wisatawan ingin cepat pulang?

Jawabannya bukan hanya dari keindahan alamnya saja, tetapi implementasi dari Sapta Pesona yang dikembangkan oleh masyarakat, komunitas lokal, dan pemerintah daerah setempat.

Sapta Pesona menjadi pondasi dasar gerakan sadar wisata di Indonesia yang sudah digaungkan sejak lama oleh Kementerian Pariwisata.

Namun sayangnya, banyak masyarakat, bahkan pelaku wisata sekalipun, yang masih belum sepenuhnya memahami apa saja unsur di dalamnya dan mengapa penerapannya begitu krusial bagi keberlangsungan sebuah destinasi wisata.

Apa Itu Sapta Pesona? 

Secara harfiah, Sapta Pesona berasal dari kata "sapta" yang berarti tujuh dan "pesona" yang berarti daya tarik atau keindahan. Konsep ini merupakan kondisi yang harus diwujudkan untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah, sekaligus membuat mereka merasa nyaman dan betah selama berada di sana.

Sadar Wisata merupakan suatu tindakan yang dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat agar siap untuk berperan sebagai tuan rumah yang  baik dan memahami, mampu serta bersedia untuk mewujudkan unsur-unsur Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan, atau yang di kenal dengan Sapta Pesona di lingkungannya masing-masing. 

Baca juga: Negara yang Paling Sering Dikunjungi Wisatawan Indonesia untuk Liburan: Asia Tenggara Juaranya?

7 Unsur Utama Sapta Pesona

1. Aman

Unsur pertama dan paling mendasar adalah rasa aman. Wisatawan harus merasa aman dari ancaman, baik yang berupa kejahatan seperti pencurian dan penipuan, masalah fisik dan tubuh, atau bahaya keselamatan akibat fasilitas yang tidak aman.

Ketika seseorang bepergian, keamanan barang bawaan, keselamatan diri dan kepastian hukum tergolong dalam rasa aman ini. Jika tidak, tanpa seorang pun mendapat keuntungan dari suatu destinasi, pelanternya akan menolak untuk datang lagi atau bahkan datang ke destinasi itu.

2. Tertib

Ketertiban yang dimaksud oleh unsur kedua adalah keteraturan yang terjadi di lintasan setiap aspek di lokasi wisata, dari segi lalu lintas, antrean, jadwal operasional sampai kedisiplinan para pelaku wisata dalam melayani pengunjung.

Sistem parkir yang teratur, informasi jadwal yang jelas, dan petugas yang disiplin dalam tugas-tugasnya akan membuat pemanis wisatawan tidak akan dihadapkan pada kekacauan dan kebingungan saat berkunjung.

3. Bersih

Kebersihan menjadi unsur yang paling bisa langsung dirasakan oleh wisatawan. Lingkungan yang bersih, bebas sampah, debu dan bau tidak sedap akan memberikan kesan awal.

Sebaliknya, destinasi wisata yang tidak bersih dan tidak terawat, meskipun memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa, akan sulit menarik wisatawan untuk kembali. Kebersihan ini mencakup area publik, fasilitas umum (toilet) hingga kebersihan makanan dan minuman yang disajikan disekitar area wisata.

4. Sejuk

Unsur sejuk terdiri dari unsur yang menyegarkan dan menyenangkan bagi psikis dan fisik. Kehadiran pepohonan di rindang, tanaman hijau yang terawat, serta sirkulasi udara yang segar akan menciptakan kesegaran yang membuat pengunjung betah berlama-lama menginap.

Kondisi ini juga dapat diartikan lebih luas sebagai suasana yang tenang sehingga tidak membuat wisatawan merasa stres atau terburu-buru.

5. Indah

Keindahan menjadi elemen teridentik keindahan daya tarik wisata secara umum. Namun dalam konteks Sapta Pesona, keindahan tidak hanya merujuk pada keindahan alam semata, melainkan juga keindahan tata ruang, arsitektur bangunan, penataan lingkungan, hingga keserasian antara elemen buatan manusia dengan alam sekitarnya.

Sebuah destinasi dapat menjadi lebih menarik jika penataan lingkungannya dilakukan dengan memperhatikan estetika secara menyeluruh, bukan hanya dengan mementingkan keindahan alam yang telah ada. 

6. Ramah Tamah

Sikap masyarakat lokal dan pelaku wisata dalam menerima dan melayani pengunjung sangat berkaitan dengan unsur ini. Bagi keramahtamahan, tidak mengeksploitasi wisatawan, contohnya melalui pemakatan harga secara sewenang-wenang, dan murah senyum, serta suka menolong.

Sikap ramah ini, yang sering kali menjadi alasan utama wisatawan mengunjungi suatu daerah, menjadi salah satu yang paling membekas di ingatan wisatawan. 

7. Kenangan

Elemen terakhir sekaligus menjadi puncak dari keenam elemen sebelumnya adalah kenangan. Kenangan merupakan puncak dari pengalaman mengesankan yang diperoleh pengunjung selama berkunjung, baik dalam tingkat pelayanan, keunikan budaya, kuliner khas, maupun cenderamata.

Jika enam hal sebelumnya diimplementasikan dengan baik, kenangan yang positif akan muncul secara alami, dan akan mendorong wisatawan untuk merekomendasikan dan kembali ke destinasi tersebut di masa mendatang.

Baca juga: 10 Destinasi Favorit Wisatawan Indonesia saat Liburan ke Singapura

Ketujuh unsur Sapta Pesona di atas tidak akan terwujud tanpa peran aktif masyarakat lokal. Berbeda dengan infrastruktur fisik yang bisa dibangun oleh pemerintah atau investor, unsur-unsur seperti keamanan, ketertiban, kebersihan, dan keramahtamahan sangat bergantung pada kesadaran dan kebiasaan sehari-hari masyarakat di sekitar destinasi wisata. 

Masyarakat yang mempunyai kesadaran tinggi terhadap wisatawan akan dengan sendirinya menjaga kebersihan lingkungan, bersikap ramah kepada semua wisatawan dan menjaga keamanan daerahnya dalam berbagai hal.

Kesadaran ini tidak muncul begitu saja, melainkan perlu dibangun melalui pendidikan berkelanjutan, pelatihan sadar wisata, hingga pemahaman bahwa sektor pariwisata yang berkembang akan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat itu sendiri.

Secara dasar, Penerapan Sapta Pesona adalah investasi jangka panjang untuk keberlangsungan sebuah destinasi wisata.

Destinasi yang berhasil menerapkan ketujuh unsur secara konsisten secara umum, memiliki rata-rata tingkat kunjungan ulang yang lebih tinggi, dibanding destinasi yang hanya mengandalkan keindahan alam tanpa memperhatikan aspek kenyamanan dan pelayanan.

Selain itu, hasil rekomendasi mulut ke mulut dan ulasan positif di media sosial akan secara alami meningkatkan reputasi destinasi secara alami, dan pada zaman digital seperti sekarang, rekomendasi dan ulasan positif di media sosial menjadi salah satu kriteria utama bagi wisatawan ketika memutuskan untuk pergi libur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA, Jurnal Ilmiah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU