Senin, 22 JUNI 2026 • 15:18 WIB

Pulau Rubiah: Akuarium Alami di Ujung Barat Indonesia

Author

Pulau Rubiah. (wonderfulindonesia.co.id)

INDOZONE.ID - Di ujung barat Indonesia, ada satu tempat yang sering bikin orang langsung merasa “turun volume” begitu sampai. Namanya Pulau Rubiah, berada di kawasan Sabang, Aceh. Airnya jernih, ombaknya relatif tenang, dan gradasi biru lautnya terlihat seperti memang sudah disiapkan alam khusus untuk wisata bahari.

Banyak orang bilang, begitu sampai di kawasan ini, suasananya langsung beda. Lebih pelan, lebih tenang, dan bikin pikiran terasa ringan.

Yang menarik, untuk sampai ke spot terbaiknya pun tidak butuh perjalanan panjang. Dari Pantai Iboih, kamu hanya perlu naik perahu beberapa menit saja sudah bisa tiba di Pulau Rubiah.

Dekat Iboih, Tapi Punya Dunia Sendiri

Pulau Rubiah berada di wilayah Kota Sabang, tidak jauh dari Pantai Iboih di Pulau Weh. Lokasinya yang sangat dekat membuat pulau ini jadi salah satu tujuan favorit wisatawan yang datang ke Sabang.

Di kalangan traveler, Rubiah sering disebut sebagai pintu masuk wisata bawah laut Sabang. Alasannya sederhana, aksesnya mudah dan kondisi lautnya cocok untuk pemula maupun yang sudah sering diving.

Kawasan ini juga dikenal dengan sebutan Taman Laut Rubiah atau Rubiah Sea Garden. Luasnya disebut mencapai sekitar 2.600 hektare dan menjadi area konservasi sekaligus wisata bahari yang cukup populer.

Baca juga: Surga Tersembunyi di Ujung Sumatera, Ini 6 Pulau Cantik di Aceh yang Wajib Dikunjungi

Cara Menuju Pulau Rubiah

Perjalanan biasanya dimulai dari Banda Aceh menuju Sabang melalui Pelabuhan Ulee Lheue ke Pelabuhan Balohan.

Kapal cepat umumnya memakan waktu sekitar 45 menit, sementara kapal lambat bisa sekitar 1 jam 45 menit. Tapi durasi ini bisa berubah tergantung cuaca dan kondisi laut.

Dari Pelabuhan Balohan, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Iboih. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit sampai 1 jam, tergantung kendaraan yang digunakan.

Setibanya di Iboih, barulah kamu naik perahu kecil menuju Pulau Rubiah. Dari sini, jaraknya benar-benar dekat, hanya sekitar 5–10 menit saja. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa lebih cepat lagi.

Airnya Benar-Benar Bening

Hal pertama yang biasanya bikin orang langsung terdiam adalah warna airnya.

Dari atas perahu, kamu sudah bisa melihat gradasi laut biru muda di dekat pantai, lalu berubah menjadi biru tua di bagian yang lebih dalam. Kalau cuaca cerah, dasar laut bahkan terlihat jelas tanpa harus menyelam.

Begitu turun ke air, suasananya langsung berubah. Tenang, jernih, dan terasa seperti masuk ke akuarium alami.

Snorkeling Jadi Aktivitas Andalan

Snorkling di Pulau Rubiah. (wonderfulindonesia.co.id)

Pulau Rubiah memang terkenal sebagai salah satu spot snorkeling terbaik di Aceh. Airnya jernih, arusnya relatif tenang, dan terumbu karangnya masih cukup terjaga.

Banyak wisatawan memilih snorkeling santai di sekitar area dangkal. Tidak perlu kemampuan khusus, cukup masker, snorkel, dan pelampung, kamu sudah bisa menikmati pemandangan bawah laut.

Ikan-ikan kecil warna-warni sering terlihat bergerombol di sekitar karang. Rasanya seperti berenang di antara taman bawah laut yang masih alami.

Diving untuk yang Ingin Lebih Dalam

Selain snorkeling, kawasan Rubiah dan Iboih juga jadi favorit para penyelam. Banyak operator lokal menawarkan paket diving dengan pemandu.

Setiap spot punya karakter berbeda, mulai dari terumbu dangkal sampai area yang lebih dalam dengan struktur karang yang lebih kompleks.

Buat pemula, biasanya ada sesi briefing dulu sebelum turun ke laut. Standar keselamatan juga jadi hal penting, jadi wisatawan disarankan memilih operator yang sudah berpengalaman.

Baca juga: Pulau Rubiah, Surganya Para Pecinta Diving dan Snorkeling Terhampar Indah di Sabang

Pulau Kecil dengan Suasana Tenang

Kalau kamu naik ke daratan Pulau Rubiah, suasananya langsung berubah total.

Tidak ramai, tidak bising, dan lebih banyak area hijau yang tenang. Cocok untuk duduk sebentar sambil melihat laut dari kejauhan.

Tapi di balik ketenangannya, Pulau Rubiah ternyata punya sejarah panjang. Dulu, pulau ini pernah digunakan sebagai lokasi karantina jemaah haji pada masa kolonial Belanda, sekitar awal tahun 1920-an.

Sisa-sisa cerita masa lalu itu masih menjadi bagian dari daya tarik pulau ini hingga sekarang.

Bukan Sekadar Indah, Tapi Juga Terjaga

Salah satu hal menarik dari kawasan ini adalah adanya program konservasi seperti Rubiah Sea Garden, yang melibatkan upaya restorasi terumbu karang.

Artinya, wisata di sini tidak hanya soal menikmati pemandangan, tapi juga ikut melihat bagaimana ekosistem laut dijaga agar tetap hidup.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wonderfulindonesia.co.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU