Bukan Sekadar Delman! Cidomo Jadi Transportasi Unik Favorit Turis di Lombok, Ini Fakta Menariknya
INDOZONE.ID - Kalau kamu liburan ke Lombok dan melihat kereta kecil ditarik kuda dengan suara lonceng khas, itu bukan sekadar delman biasa. Namanya cidomo, transportasi tradisional yang sampai sekarang masih eksis dan justru makin dilirik wisatawan.
Bukan cuma alat angkut, cidomo sudah berubah menjadi bagian dari pengalaman wisata yang unik, klasik, dan tentunya menarik untuk diabadikan.
Dari Kendaraan Rakyat Jadi Magnet Wisata
Awalnya, cidomo merupakan transportasi harian masyarakat Lombok. Warga menggunakannya untuk ke pasar, mengangkut barang, hingga bepergian antarwilayah.
Namun, seiring berkembangnya sektor pariwisata, fungsi cidomo ikut “naik level”. Kini, banyak turis sengaja mencarinya untuk berkeliling destinasi populer seperti Pantai Senggigi dan Pura Batu Bolong.
Sensasi naik kendaraan tanpa mesin, ditemani suara langkah kuda dan angin pantai, menjadi pengalaman yang sulit ditemukan di kota besar.
Punya Akar Sejarah dari Era Kolonial
Cidomo bukan muncul begitu saja. Kendaraan ini memiliki sejarah panjang sejak akhir abad ke-19, saat Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda.
Pada masa itu, masyarakat Lombok menggunakan dokar atau kereta kuda beroda empat sebagai transportasi utama. Ketika teknologi mulai berkembang di awal abad ke-20, muncul ide untuk mengombinasikan sistem tradisional dengan konsep yang lebih modern.
Nama “cidomo” sendiri merupakan singkatan dari cikar, dokar, dan motor. Meski saat ini tetap menggunakan tenaga kuda, istilah tersebut mencerminkan proses evolusi transportasi di masa lalu.
Sementara itu, delman yang menjadi “cikal bakal” cidomo, diambil dari nama penemunya, Charles Theodore Deeleman. Dari sinilah bentuk kendaraan berkembang hingga menjadi versi khas Lombok yang dikenal saat ini.
Baca juga: Panduan Lengkap Wisata Bunaken 2026: Rute, Pilihan Transportasi, dan Estimasi Biaya Terbaru
Desain Sederhana, tetapi Penuh Karakter
Secara tampilan, cidomo memiliki ciri yang cukup berbeda dari delman di daerah lain. Rodanya sudah menggunakan ban mobil bekas, bukan roda kayu, sehingga lebih tahan dan nyaman di jalan.
Kerangkanya dibuat dari kayu dengan atap berbahan jerami atau serat kelapa untuk melindungi penumpang dari panas dan hujan. Meski sederhana, beberapa cidomo kini sudah dimodifikasi dengan jok empuk agar lebih nyaman.
Menariknya, ada juga cidomo yang ditarik lebih dari satu kuda, tergantung beban yang dibawa. Ditambah ornamen seperti jumbai dan lonceng, perjalanan terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Ukurannya pun relatif kecil, hanya cukup untuk 4–5 orang termasuk kusir. Bentuknya yang tertutup justru memberi kesan unik dan berbeda dari transportasi modern.
Andalan Transportasi di Kawasan Gili
Di wilayah kepulauan seperti Gili Trawangan dan Gili Meno, cidomo bukan hanya pelengkap wisata, tetapi menjadi transportasi utama. Hal ini karena kendaraan bermotor sangat dibatasi di kawasan tersebut.
Akibatnya, cidomo menjadi solusi mobilitas yang ramah lingkungan, minim polusi, dan tetap menjaga suasana pulau yang tenang. Tak heran, banyak wisatawan menganggap naik cidomo sebagai salah satu “ritual wajib” saat berkunjung ke Gili.
Baca juga: Viral Kuda Delman Dibiarkan Kehujanan di Lokasi Wisata, Sampai Tertunduk Memilukan
Tantangan: Modernisasi vs Tradisi
Meski masih populer, keberadaan cidomo tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah kecepatan yang relatif lambat, yang kadang menyebabkan kemacetan di area tertentu.
Selain itu, isu kebersihan juga menjadi perhatian, terutama terkait kotoran kuda di jalan. Untuk mengatasinya, pemerintah setempat menerapkan aturan ketat, termasuk kewajiban bagi kusir untuk menjaga kebersihan dengan sanksi jika melanggar.
Di sisi lain, kehadiran sepeda dan motor listrik mulai menjadi pesaing baru. Biaya operasional dan perizinan cidomo yang tinggi juga membuat para pemilik berharap adanya regulasi yang lebih seimbang.
Lebih dari Sekadar Transportasi
Di balik segala tantangannya, cidomo tetap menjadi simbol budaya Lombok yang sulit tergantikan. Kendaraan ini tidak hanya ramah lingkungan karena tanpa bahan bakar, tetapi juga menghadirkan nuansa tradisional yang autentik.
Di tengah dunia yang serba cepat dan modern, cidomo justru menawarkan pengalaman sebaliknya, lebih santai, lebih tenang, dan lebih dekat dengan alam.
Jadi, kalau kamu ke Lombok, jangan cuma mencari spot foto terbaik. Luangkan waktu untuk naik cidomo dan rasakan sendiri bagaimana transportasi sederhana ini bisa membawa kamu “kembali ke masa lalu” dengan cara yang menyenangkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesiakaya.com