Pilu! 5 Ikon Wisata Sumatera yang Luluh Lantak Akibat Banjir Bandang, Gajah Mati Tertimbun Serpihan Kayu
INDOZONE.ID – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 meninggalkan luka yang tak hanya merenggut rumah warga serta korban jiwa. Tapi juga memporak-porandakan sejumlah kawasan wisata ikonik di Pulau Sumatera.
Tempat-tempat yang selama ini menjadi tujuan liburan dan foto wisatawan, mendadak berubah menjadi puing dan lumpur, menyisakan cerita duka bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Dalam sedetik, lokasi wisata yang terkena imbas banjir bandang ini habis disapu air dan lumpur.
Mulai dari Lembah Anai di Sumatera Barat yang biasanya dipenuhi panorama tebing dan air terjun, hingga wilayah pesisir Sibolga di Sumatera Utara yang terkenal dengan pantai indahnya, kini sebagian tak lagi sama. Berikut deretan lokasi wisata yang terdampak parah oleh bencana tersebut.
Baca juga: Kemenhub Rehabilitasi Jalur Kereta yang Rusak Akibat Bencana di Sumatera
1. Lembah Anai, Sumatera Barat
Nama Lembah Anai sudah lama menjadi magnet bagi wisatawan di jalur Padang–Bukittinggi. Tebing-tebing tinggi, aliran Sungai Batang Anai yang jernih, dan air terjun ikon wisata kelas dunia.
Mengutip ANTARA, bencana banjir bandang membuat kawasan ini lumpuh total. Arus sungai berubah menjadi cokelat gelap membawa batu, lumpur, hingga kayu dari hulu. Semua aksesnya juga terputus dan menyebabkan kesulitan pascabencana ini.
2. Jembatan Kembar Silaing
Di dekat Lembah Anai juga berdiri Jembatan Kembar Silaing, akses utama yang menghubungkan Padang dengan Bukittinggi.
Jembatan Kembar Silaing dilaporkan putus dan ambruk, menyebabkan akses antar kota terputus dan arus kendaraan dialihkan. Puluhan hingga ratusan rumah warga di sekitar area turut terendam serta mengalami kerusakan berat.
3. Gapura Selamat Datang Padang
Bangunan megah berwarna putih ini merupakan pintu gerbang yang selama bertahun-tahun menjadi landmark kebanggaan warga Padang. Wisatawan yang baru tiba di kota biasanya menjadikan gapura ini sebagai latar foto wajib.
Banjir bandang yang terjadi membuat struktur bangunan ikut terdampak. Material banjir menyisakan kerusakan di sejumlah bagian dan menutup area sekitarnya dengan lumpur serta puing-puing. Foto kondisi gapura yang tak lagi tegak sempurna beredar luas di media sosial, memantik simpati publik.
Baca juga: 7 Kuliner Khas Sumatera Barat dan Oleh-oleh Enak yang Wajib Dibawa Pulang Wisatawan
4. Sibolga, Sumatera Utara
Sibolga dikenal sebagai kota pesisir yang punya banyak surga bahari seperti Pulau Putri, Pulau Poncang Gadang, hingga Pulau Bangke. Biasanya kawasan ini ramai dengan wisata memancing, snorkeling, dan wisata pantai.
Namun beberapa hari terakhir, wajah Sibolga berubah drastis. Banjir dan tanah longsor menghantam pemukiman hingga menyebabkan 44 orang meninggal dunia serta ratusan rumah rusak berat, berdasarkan data yang dirilis Polres Sibolga.
Belasan warga juga dilaporkan masih hilang. Akses menuju beberapa titik wisata terputus total dan aktivitas ekonomi masyarakat berhenti.
Tim SAR, TNI-Polri, serta relawan masih berada di lapangan melakukan pencarian dan evakuasi hingga kini.
5. Pidie Jaya, Aceh
Mengutip situs resmi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), wilayah pesisir di Kabupaten Pidie Jaya tak luput dari bencana. Hujan intensitas tinggi memicu banjir di banyak kecamatan dengan ketinggian air mencapai 30–100 cm, berdampak pada lebih dari 22 ribu jiwa.
Aktivitas masyarakat lumpuh dan beberapa fasilitas umum rusak terendam air. Selain akses wisata yang terputus, seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) tergeletak mati tertimbun lumpur dan kayu di kawasan Meunasah Lhok.
Meski kondisi sejumlah destinasi wisata kini porak-poranda, pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana terus berupaya melakukan pemulihan, evakuasi, dan pendataan kerusakan.
Masyarakat serta relawan masih bekerja bahu-membahu membantu korban dan membuka akses jalan yang tertutup material banjir.
Kementerian Pariwisata juga sudah meminta setiap pihak untuk melakukan langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bencana melalui Surat Edaran tentang Penyelenggaraan Kegiatan Wisata yang Aman, Nyaman, dan Menyenangkan pada Saat Menyambut Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
"Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong instansi (K/L) terkait, pemerintah daerah (Pemprov/Pemkot/Pemkab), pengelola destinasi wisata, pelaku usaha industri pariwisata, dan stakeholder pentahelix pariwisata agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometerologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di destinasi wisata," kata Kementerian Pariwisata di Jakarta.
Menanggapi cuaca hujan yang menyebabkan sejumlah bencana di beberapa wilayah, Kementerian Pariwisata mengatakan surat edaran yang akan segera diterbitkan itu ditujukan untuk mengantisipasi peningkatan pergerakan wisatawan dan meminimalkan potensi ancaman bencana, khususnya pada lonjakan wisatawan pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Semoga daerah terdampak segera pulih dan ikon wisata Sumatera bisa kembali tersenyum menerima wisatawan seperti sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA