INDOZONE.ID - Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Argopuro selalu menawarkan pengalaman berbeda bagi para pendaki.
Salah satu titik ikoniknya adalah Danau Taman Hidup, sebuah perairan tenang yang dikelilingi kabut dan hutan pegunungan.
Suasana sunyi nan damai menjadikannya tempat favorit bagi pecinta petualangan alam. Namun, di balik pesona itu, terdapat tantangan serius yang tidak boleh diabaikan.
Aktivitas manusia yang kurang bijak di sekitar danau dan Sungai Kalbu berpotensi merusak keseimbangan ekosistem.
Baca juga: Wajah Baru Wisata Belanja di Jakarta Barat, Neo Soho Jadi Central Park 2
Air yang seharusnya murni terjaga kini rawan terganggu, padahal fungsinya sangat penting: menopang flora, fauna, dan masyarakat yang tinggal di hilir.
Menurut Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, pendakian seharusnya menjadi media pembelajaran.
Nur Patria menuturkan, “Setiap perjalanan di alam adalah kesempatan belajar tentang kerendahan hati.” Baginya, hutan, air, dan satwa harus tetap lestari demi generasi mendatang.
Pesan itu mengingatkan bahwa mendaki bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan kesempatan berdialog dengan alam. Manusia adalah tamu, dan tamu yang baik tentu tahu cara menghormati rumah yang didatangi.
Baca juga: 17 Pesona Alam Sulawesi Utara, Bukan Anak Travel Sejati Kalau Belum Menjelajahinya!
Salah satu momen langka terjadi pada Sabtu (30/8/2025). Dari balik semak belukar, seekor Rusa Timor betina muncul di jalur pendakian Argopuro.
Kehadirannya yang penuh kewaspadaan namun meneduhkan menjadi simbol bahwa hutan ini masih menyimpan denyut kehidupan.
Rusa Timor (Rusa timorensis), satwa dilindungi melalui Permen LHK P.106/2018, memiliki peran ekologis penting. Sebagai pemangkas vegetasi alami, ia membantu menjaga keseimbangan ekosistem.
Di masa lalu, satwa ini bahkan menjadi mangsa utama predator besar. Sayangnya, keberadaannya kian jarang ditemui akibat kerusakan habitat.
Baca juga: Bukan Cuma Everest! Ini 8 Surga Tersembunyi di Nepal yang Bikin Hati Kepincut
Kepala Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo, Benediktus Rio Wibawanto, menegaskan bahwa perjumpaan langsung dengan satwa liar adalah indikator kualitas ekosistem yang masih terjaga.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut sebaiknya tidak sekadar dipandang sebagai hiburan wisata, melainkan refleksi akan tanggung jawab menjaga alam.
Nur Patria Kurniawan menambahkan bahwa konservasi harus dilakukan secara konsisten, baik melalui patroli, monitoring, maupun keterlibatan masyarakat.
Ia menegaskan, “Rusa Timor adalah bagian dari warisan alam Nusantara. Setiap perjumpaan di alam liar adalah bukti nyata keberhasilan menjaga kawasan.”
Baca juga: Daftar Destinasi Wisata Bali yang Terdampak Banjir Besar, Terburuk dari Sepuluh Tahun
Bagi para pendaki, momen itu terasa lebih dari sekadar cerita perjalanan.
Pertemuan dengan satwa liar menghadirkan kekaguman dan perenungan mendalam, bahwa alam memiliki bahasa sendiri untuk mengingatkan manusia agar lebih bijak.
Argopuro bukan sekadar jalur panjang untuk pendakian. Ia adalah ruang belajar, tempat manusia disadarkan bahwa alam tidak bisa hanya dimanfaatkan, melainkan harus dijaga.
Kehadiran Rusa Timor di Taman Hidup adalah bukti bahwa konservasi masih memiliki harapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bbksdajatim.org