Kamis, 07 AGUSTUS 2025 • 19:05 WIB

Mengintip Keindahan Struktur Arsitektural Hagia Sophia

Author

Masjid Hagia Sophia punya kembaran di Malang. (Bhekti Setyowibowo/IDZ Creators)

INDOZONE.ID - Hagia Sophia merupakan sebuah bangunan Bizantium penting di Istanbul, Turki, dan menjadi salah satu monumen terbesar dunia. Bangunan ini dibangun sebagai gereja Kristen pada abad ke-6 M (532–537) di bawah arahan kaisar Bizantium Justinian I.

Pada abad-abad berikutnya, Hagia Sophia pernah menjadi masjid, museum, dan sekarang menjadi masjid lagi. Hagia Sophia mencerminkan perubahan agama yang telah terjadi di wilayah tersebut selama berabad-abad.

Hagia Sophia memiliki menara dan prasasti Islam serta mosaik Kristen yang mewah.

Dilansir dari britannica.com, denah bangunan hampir berbentuk persegi, tetapi jika dilihat dari dalam akan tampak berbentuk persegi panjang. Hal ini karena semikubah besar di timur dan barat memperpanjang efek atapnya.

Baca juga: 6 Tempat Wisata di Jakarta untuk Anak Berinteraksi dengan Hewan

Kolom-kolomnya terbuat dari marmer terbaik, dipilih berdasarkan warna dan variasinya. Sedangkan bagian bawah dinding dilapisi dengan lempengan marmer.

Dinding tirai--dinding luar yang tidak menahan beban--di atas galeri dan dasar kubah ditembus oleh jendela. Sehingga di bawah sinar matahari akan mengaburkan penyangga dan memberikan kesan kanopi melayang di udara.

Masuk Hagia Sophia tidak dipungut biaya alias gratis. (Foto/Tripadvisor.co.id)

Tiang-tiang marmer Hagia Sophia yang asli masih bertahan hingga kini. Namun dekorasi aslinya, termasuk sebagian besar mosaik yang menghiasi bagian atas dinding dan atap, telah musnah.

Di sisi lain masterclass.com menjelaskan lebih rinci tentang arsitektur Hagia Sophia.

Baca juga: 5 Wisata Seru yang Bisa Berinteraksi Langsung dengan Gajah di Habitat Aslinya

Hagia Sophia berukuran panjang 269 kaki dan lebar 240 kaki, dengan atap berbentuk kubah yang membentang 180 kaki di atas tanah.

Ketika dibangun, Kaisar Justinianus ingin membuat struktur yang mewakili seluruh Kekaisaran Bizantium. Itu sebabnya, ia menggunakan bahan-bahan dari setiap provinsi untuk membangun basilika.

Marmer lantai diproduksi di Anatolia, sekarang Turki bagian timur dan Suriah, dan batu bata untuk dinding dan bagian lantai berasal dari Afrika Utara.

Denah lantai bangunan ini hampir berbentuk persegi. Bangunan ini berisi tiga lorong yang dipisahkan oleh kolom, masing-masing berisi galeri mosaik. 

Baca juga: Tebing Breksi Jogja: Dulu Bekas Tambang, Sekarang Jadi Spot Wisata Hits

Di atas galeri terdapat 40 jendela yang memberikan kesan atapnya melayang di udara.

Hagia Sophia memiliki 104 kolom, sebagian besar terbuat dari marmer yang diimpor dari Kuil Artemis di Ephesus, sebuah kota kuno dekat Selçuk (Turki modern), dan dari Mesir.

Bagian tengah utama bangunan ini ditutupi oleh kubah tengah yang berdiameter 107 kaki dan menjulang 180 kaki di atas tanah.

Kubah ini didukung oleh empat liontin. Hagia Sophia memiliki kubah liontin terbesar kedua di dunia, setelah Basilika Santo Petrus di Roma.

Baca juga: 7 Tempat Paling Bersejarah di Jakarta, Cocok Dikunjungi untuk Peringati HUT RI Ke-80!

Ada dua semikubah di kedua sisinya, satu di altar dan satu lagi di pintu masuk utama.

Hagia Sophia yang asli ditutupi dengan mosaik dan lukisan dinding bercorak Kristen. Banyak dari gambar Kristen asli ditutup oleh Turki Ottoman.

Salah satu mosaik penting yang masih ada di Hagia Sophia adalah Perawan Maria dengan bayi Yesus di pangkuannya dengan latar belakang mosaik emas.

Di atas pintu masuk Barat Daya Hagia Sophia terdapat mosaik Perawan Maria dengan Kaisar Konstantinus, kaisar pertama Kekaisaran Bizantium, dan Kaisar Justinian I.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Britanica.com, Masterclass.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU