INDOZONE.ID - Berbicara tentang Madura, banyak yang langsung teringat pada karapan sapi, Jembatan Suramadu, atau cuaca panas khas pesisir.
Namun, ada dua alasan lain yang diam-diam memikat para pencinta kuliner dan penjelajah pantai tropis untuk kembali menjelajah sisi timur Pulau Jawa: Gili Labak dan Soto Madura.
Kombinasi dua hal ini seperti paket lengkap untuk mereka yang haus akan keindahan dan kelezatan dalam satu perjalanan.
Baca juga: Pasar Gede Solo: Surga Kuliner Legendaris dan Wisata Belanja Sekali Jalan!
Gili Labak: Surga Tropis yang Masih Perawan
Terselip di tenggara Pulau Madura, Gili Labak adalah pulau mungil yang dikelilingi air laut sebening kristal, dengan gradasi biru-kehijauan yang memanjakan mata.
Pasir putihnya halus, terumbu karang hidup hanya beberapa meter dari bibir pantai, dan suasana sepi membuat pulau ini terasa seperti pulau pribadi.
Tak ada resor mewah, hanya deretan pohon kelapa dan rumah-rumah sederhana nelayan yang menyambutmu dengan ketenangan luar biasa.
Baca juga: 7 Spot Lihat Sunset Terbaik di Depok yang Wajib Kamu Kunjungi
Untuk mencapai Gili Labak, kamu bisa memulai perjalanan dari Pelabuhan Kalianget di Sumenep.
Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan perahu motor selama kurang lebih dua jam melintasi laut yang tenang.
Meski terbilang jauh, pemandangan laut selama perjalanan menjadi bonus yang tak kalah indah.
Aktivitas seperti snorkeling, camping, dan fotografi panorama menjadi alasan utama para pelancong berani menyeberang ke pulau mungil ini.
Baca juga: 7 Tempat Wisata di Lampung yang Cocok Buat Keluarga Muda, Yuk Intip!
Kembali ke Darat, Aroma Soto Madura Langsung Menggoda
Setelah puas menjelajahi keindahan Gili Labak, rasa lapar biasanya jadi alarm alami tubuh.
Dan inilah momen yang sempurna untuk mencicipi Soto Madura asli, yang banyak ditemukan di pusat Kabupaten Sumenep.
Meskipun Soto Madura kini mudah dijumpai di berbagai kota besar di Indonesia, pengalaman menyantapnya langsung di tanah kelahirannya terasa sangat berbeda.
Soto Madura dikenal karena kuahnya yang bening namun sarat rasa rempah. Potongan daging sapi yang dimasak hingga empuk dipadukan dengan bihun, telur rebus, kentang goreng, dan taburan daun bawang—menciptakan cita rasa yang khas dan menggugah selera.
Baca juga: 7 Tempat Wisata di Gunung Bromo Keren dan Estetik, Wajib Masuk Bucket List
Sentuhan akhir berupa sambal, perasan jeruk nipis, serta taburan koya dari kerupuk udang yang ditumbuk, membuat pengalaman menyantapnya makin komplet dan nendang di lidah.
Uniknya, setiap daerah di Madura punya versi Soto masing-masing, tapi Sumenep mempertahankan resep yang otentik dan sederhana.
Tidak ada santan, tidak terlalu berminyak, dan setiap suapan terasa 'bersih' di lidah.
Penyajian biasanya di atas piring aluminium lebar dengan nasi hangat yang langsung dituang kuah, bukan terpisah.
Kalau kamu berkeliling kota Sumenep usai menyebrang dari Gili Labak, banyak warung kaki lima yang menjual Soto Madura ini sejak pagi buta.
Tapi waktu terbaik untuk menyantapnya justru sore menjelang malam, ketika tubuh masih sedikit lelah setelah pulang dari laut, dan angin pesisir mulai berhembus dingin.
Baca juga: 7 Pantai Hidden Gem di Jawa Tengah yang Wajib Kamu Temukan, Indahnya Bikin Melonggo!
Kenikmatan yang Membumi, Tapi Tak Terlupakan
Apa yang membuat perjalanan ini begitu spesial bukan hanya soal tempat dan rasa, tetapi bagaimana elemen alam dan kuliner bertemu dalam satu narasi yang kuat.
Dari Gili Labak yang begitu alami dan memanjakan mata, sampai Soto Madura yang hangat dan akrab di lidah, keduanya mengisi pengalaman wisata dengan kesan yang sulit dihapus.
Kombinasi ini juga membuktikan bahwa Sumenep bukan sekadar titik di ujung Madura, melainkan destinasi yang bisa menyatukan semua jenis wisatawan: pecinta pantai, pemburu rasa lokal, hingga pejalan yang ingin menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kota.
Mungkin, tak banyak tempat di Indonesia yang bisa menawarkan pantai sekelas Maldives dan semangkuk soto seharga belasan ribu rupiah dalam satu hari perjalanan.
Tapi Sumenep melakukannya dengan santai—tanpa gembar-gembor, tanpa perlu menjadi destinasi mainstream.
Jadi, jika kamu sedang merencanakan liburan berikutnya jangan lupakan Sumenep, mulailah dari lautnya, dan akhiri dengan sotonya, atau sebaliknya. Yang pasti, dua-duanya akan membuatmu ingin kembali lagi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: What’s New Indonesia, Panomnom.com