Makan di Tengah Rimbunnya Bambu: Pesona Pasar Papringan Temanggung yang Bikin Nostalgia Hidup Lagi!
INDOZONE.ID - Di Temanggung, Jawa Tengah, terdapat sebuah pasar unik yang menyulap hutan bambu menjadi destinasi wisata kuliner bernuansa alam yang tak biasa.
Bukan hanya soal makanan enak, tapi suasananya yang autentik, penuh nuansa jadul, dan ramah lingkungan bikin siapa pun betah berlama-lama.
Namanya Pasar Papringan, dan tempat ini jadi bukti kalau kearifan lokal bisa dikemas jadi tren yang keren!
Baca juga: Anti Ribet! Ini 4 Mal di Jakarta yang Terhubung Langsung dengan Transportasi Umum
Pasar Papringan bukan sekadar tempat jualan. Ia adalah pengalaman. Digelar di tengah kebun bambu yang teduh, pasar ini hanya buka dua kali sebulan—setiap minggu Wage dan Pon dalam kalender Jawa.
Bagi warga lokal maupun wisatawan, momen ini seperti "lebaran kecil" di mana semua tumpah ruah untuk menikmati kuliner tradisional, cinderamata, hingga suasana khas desa yang hangat.
Uniknya, semua transaksi di Pasar Papringan menggunakan mata uang khusus yang disebut pring.
Pengunjung harus menukar uang tunai mereka dengan pring sebelum mulai jajan.
Tujuannya bukan buat gaya-gayaan, tapi supaya transaksi jadi lebih praktis sekaligus menjaga suasana pasar tetap rapi tanpa lalu-lalang uang kertas.
Baca juga: 7 Negara Paling Jorok di Dunia Menurut Traveler, Indonesia Termasuk!
Dari segi kuliner, pasar ini ibarat surga makanan tradisional. Kamu bisa menemukan tape ketan, jenang gempol, nasi jagung, sate jamur, wedang uwuh, sampai jajanan langka yang sudah jarang dijual di kota-kota besar. Semua disajikan di atas daun pisang, bambu, atau bahan alami lainnya—tanpa plastik sama sekali.
Ini jadi bagian dari misi besar Pasar Papringan untuk menjaga lingkungan sekaligus melestarikan budaya lokal.
Pasar ini tumbuh dari semangat komunitas lokal, berkolaborasi dengan Spedagi Movement—gerakan arsitektur berkelanjutan yang digagas oleh desainer asal Temanggung, Singgih S. Kartono.
Mereka memanfaatkan lahan yang dulunya terbengkalai menjadi ruang hidup baru yang produktif dan estetik. Semua elemen pasar dirancang agar senyaman mungkin tapi tetap menyatu dengan alam.
Lokasinya sendiri berada di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.
Meski lokasinya tersembunyi dan jauh dari hiruk pikuk kota, jumlah pengunjungnya nggak bisa dianggap remeh—selalu ramai dan penuh antusiasme, terutama di akhir pekan.
Baca juga: 7 Negara Paling Aman di Dunia untuk Dikunjungi Wisatawan, Wajib Masuk Wishlist Kamu!
Banyak yang rela datang dari luar kota hanya untuk merasakan atmosfer pasar ini.
Bahkan, Pasar Papringan pernah viral di media sosial berkat suasananya yang begitu fotogenik—dikelilingi rimbunan bambu, dipenuhi jajanan tradisional, dan sarat nilai budaya lokal yang autentik.
Dari segi visual, tempat ini emang Instagramable banget. Jalan tanah berpaving batu, warung bambu sederhana, lampu gantung dari anyaman bambu, dan pengunjung yang berpakaian adat atau baju kasual ala desa bikin suasana terasa “real” dan hangat.
Apalagi kalau datang pagi-pagi, kabut tipis masih menyelimuti area pasar, bikin sensasi makan jadi lebih syahdu.
Hal menarik lainnya, seluruh produk yang dijual di pasar ini adalah hasil produksi warga sekitar.
Jadi setiap transaksi yang kamu lakukan langsung memberikan dampak ekonomi ke masyarakat lokal. Inilah bentuk pariwisata yang bukan cuma menikmati, tapi juga memberdayakan.
Pasar Papringan bukan cuma soal kuliner atau tempat foto-foto cantik.
Ia adalah contoh nyata bagaimana ruang publik bisa dihidupkan kembali dengan sentuhan tradisi, keberlanjutan, dan gotong royong.
Tanpa harus mewah, pasar ini berhasil menciptakan pengalaman yang mewah secara makna.
Buat kamu yang bosan dengan wisata kuliner yang itu-itu saja, Pasar Papringan wajib masuk bucket list.
Cicipi rasa masa lalu, hirup aroma bambu basah pagi hari, dan nikmati satu hari tanpa bising kota—semuanya di satu tempat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram @pasarpapringan