INDOZONE.ID - Pura Mangkunegaran di Surakarta kembali menggelar perayaan Malam Satu Sura sebagai penanda pergantian tahun baru dalam kalender Jawa.
Acara ini berlangsung pada Kamis malam, 26 Juni 2025, dan dihadiri langsung oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Dalam kesempatan itu, Menteri Pariwisata tampak anggun mengenakan busana adat Jawa, berupa kebaya Kartini hitam berlengan panjang serta kain jarik batik.
Penampilannya seakan menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung pelestarian budaya tradisional Indonesia.
Baca juga: 17 Ide Nama Usaha Susu Kurma Kekinian yang Unik, Estetik, dan Bikin Auto Dilirik!
“Malam Satu Sura ini menjadi bentuk upaya melestarikan dan memperkuat tradisi budaya Jawa. Seiring dengan itu, perayaan ini juga bisa menjadi daya tarik wisata budaya yang unik, menarik kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara untuk menyaksikan serta ikut serta dalam tradisi ini,” ungkap Widiyanti Putri.
Perayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sarat makna spiritual. Malam Satu Sura, yang dipandang suci oleh masyarakat Jawa, dijadikan sebagai waktu untuk merenung, menyucikan diri, serta menyelaraskan jiwa dengan Tuhan dalam menyambut tahun baru.
Rangkaian acara di Pura Mangkunegaran diawali dengan Kirab Pusaka, prosesi sakral arak-arakan benda pusaka milik keraton yang diyakini memiliki nilai spiritual tinggi.
Arak-arakan ini dipimpin langsung oleh Gusti Pangeran Haryo Paundrakarna Jiwo Suryonegoro.
Baca juga: 17 Ide Nama Usaha Bandrek Susu Kekinian yang Bikin Usaha Kamu Auto Dilirik!
Salah satu hal istimewa dari kirab tahun ini adalah pemadaman seluruh lampu di area Pamedan dan sepanjang rute kirab.
Cahaya hanya berasal dari lampu minyak yang dibawa oleh peserta, menciptakan suasana khidmat dan penuh kekhusyukan.
Peserta kirab menjalani ritual Tapa Bisu, yakni berjalan kaki tanpa suara, tanpa alas kaki, dan tanpa berbicara.
Laku ini mencerminkan pengendalian diri, kesederhanaan, dan pencapaian kedamaian batin dalam menyambut tahun baru Jawa.
Setelah prosesi kirab selesai, pusaka kembali disimpan di Dalem Ageng. Tradisi kemudian dilanjutkan dengan rebutan air kembang dari prosesi jamasan pusaka, air yang dipercaya membawa keberkahan.
Dengan kekayaan nilai budaya dan spiritual, acara ini menjadi bukti nyata bahwa budaya Jawa tetap lestari dan memiliki daya tarik luar biasa sebagai wisata budaya yang autentik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemenpar.go.id