Suasana tradisi melukat Pura Tirtha Empul Tampak Siring, Bali. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah).
INDOZONE.ID - Di tengah hiruk pikuk dunia modern yang serba cepat, Bali menawarkan lebih dari sekadar pesta pantai atau keindahan alam.
Kini, semakin banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara datang ke Pulau Dewata untuk mencari ketenangan batin melalui tren wisata spiritual dan healing. Salah satu praktik yang paling dicari adalah Melukat.
Bukan sekadar berendam di air suci, Melukat adalah sebuah perjalanan spiritual untuk menyelaraskan kembali jiwa dan pikiran. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai tradisi sakral ini.
Baca juga: Melihat Tradisi Melukat di Bali saat Pandemi, Penuh Nuansa Spiritual
Kata "Melukat" berasal dari bahasa Jawa Kuno, yakni lukat yang berarti "melepaskan" atau "membersihkan". Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, Melukat adalah ritual penyucian diri untuk membasuh mala (kotoran spiritual) atau energi negatif dalam diri manusia.
Ritual ini bertujuan untuk membersihkan pikiran yang keruh, menenangkan hati yang gelisah, dan memohon kesembuhan baik secara fisik maupun emosional. Bagi banyak orang, Melukat menjadi simbol "awal yang baru" atau reset mental dari stres dan trauma yang menumpuk.
Baca juga: Siap-siap, Desa di Sanur Bali Kompak Hadirkan Parade Ogoh-Ogoh Sambut Hari Raya Nyepi!
Bali memiliki banyak beji (sumber air suci) yang dipercaya memiliki energi penyembuhan yang kuat. Berikut adalah beberapa tempat yang paling direkomendasikan:
Karena Melukat adalah ritual keagamaan yang sakral, pengunjung wajib mengikuti aturan dan etika yang berlaku demi menghormati kesucian tempat tersebut:
Melukat bukan sekadar tren wisata, melainkan sebuah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan alam semesta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan