INDOZONE.ID - Udara sejuk yang dikelilingi perkebunan teh serta Gunung Patuha membuat suasana sekitar tempat ini terasa syahdu dan romantis. Romantisme makin kental bila pengunjung berkeliling naik perahu di danau penuh legenda bernama Situ Patenggang atau Patengan.
Nama Patenggang berasal dari bahasa Sunda pateang-teangan yang berarti “saling mencari.” Tempat ini tidak lepas dari legenda Ki Santang dan Dewi Rengganis, sepasang kekasih yang dimabuk asmara namun kemudian berpisah. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bertemu kembali. Sang putri titisan dewi itu meminta dibuatkan danau dan perahu untuk dinaiki berdua, sehingga terbentuklah Situ Patenggang.
Baca juga: Pesona Kawah Gunung Tangkuban Parahu, Destinasi Wisata Cocok untuk Libur Lebaran
Berada di ketinggian 1.600 mdpl, di kaki Gunung Patuha, Ciwidey, Bandung Selatan, Jawa Barat, danau ini menyimpan banyak mitos yang diyakini masyarakat. Konon, pasangan yang datang ke tempat ini akan memiliki hubungan yang langgeng. Pengunjung yang singgah di Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara di tengah danau diyakini akan menemukan cinta sejatinya. Bagi yang masih jomblo dipercaya akan segera bertemu jodoh, sedangkan yang sudah menikah akan semakin awet cintanya, layaknya Ki Santang dan Dewi Rengganis.
Situ Patenggang merupakan kawasan cagar alam dengan luas lebih dari 150 hektare, yang di dalamnya terdapat hutan larangan. Konon, siapa pun yang nekat masuk ke hutan tersebut dikabarkan jarang bisa kembali pulang dan hilang tanpa jejak. Bahkan, cerita dari para pecinta alam menyebutkan sering terlihat sosok tak kasat mata bergaun putih di hutan ini.
Baca juga: Mirip Kisah Tangkuban Perahu, Salah Satu Masjid Tertua di Depok Ini Berdiri Cuma Dalam Semalam
Dari Kota Bandung, danau ini berjarak sekitar 47 kilometer atau sekitar 2,5 jam perjalanan. Pemandangan yang menyejukkan mata, hamparan hutan pinus, kebun stroberi, serta perkebunan teh membuat rasa lelah di perjalanan seketika hilang.
Situ Patenggang makin mempesona dengan beragam fasilitas yang Instagramable, seperti jembatan di atas danau, kapal pinisi, hingga sarana glamping di area sekitarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: