Sabtu, 15 FEBRUARI 2025 • 07:45 WIB

Cerita Penggiat Batik Berkah Lestari Bantul di Desa Wisata Terbaik Indonesia : Diekspor Ke Luar Negeri

Author

Ketua Kelompok Batik Berkah Lestari, Nani

INDOZONE.ID - Kelompok Batik Berkah Lestari yang berada di Dusun Karangkulon menjadi salah satu destinasi wisata wajib dikunjungi saat berkunjung ke Yogyakarta.

Kelompok ini mulanya merupakan inisiatif pemberdayaan perempuan melalui kegiatan membatik.

"Diawali dengan pembentukan kelompok batik yang terdiri dari 50 peserta kemudian dibina, dilatih membatik serta diberikan perlengkapan membatik yang kemudian para anggota mendirikan kelompok batik lainnya," kata Nani selaku Ketua Kelompok Batik Berkah Lestari, Jumat (14/2/2025).

Kemudian, kelompok batik ini mengalami recovery setelah gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006, dengan bantuan dari Dompet Dhuafa yang bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk menghidupkan kembali ekonomi lokal. Sejak itu, kelompok ini terus berkembang dan eksis hingga saat ini.

"Artinya, batik lestari ini hadir sebagai upaya recovery memperbaiki taraf hidup warga dengan memberikan binaan, pelatihan kepada kelompok membatik," ucapnya.

Nani menuturkan, hingga tahun ini industri batik ini bertahap terus terangkat ke pasar masyarakat baik lokal maupun mancanegara. Termasuk permintaan batik tulis di negara Jepang.

"Pada proses pembuatan batik tulis yang cukup rumit dibutuhkan sebuah skill ketelitian yang tinggi. Tak hanya itu, kreativitas, inovasi, dan kreasi dari para pengrajin batik dalam membuat motifnya juga terbilang tidak mudah," terangnya.

Tak hanya Jepang, produk batik tulis Berkah Lestari juga diekspor hingga ke Inggris.

"Pernah kita kirim ke Britania Raya, itu juga pernah," ujar Nani.

BACA JUGA Serap Aspirasi Pelaku UMKM di Batik Trusmi, Gibran Komitmen Atasi Sulitnya Perizinan

Disisi lain, Nani menceritakan rasa keluh kesahnya dalam mendorong  Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM) berbasis batik ini adalah rentannya generasi muda untuk meneruskan giat membatik ini.

Menurutnya, generasi muda lebih banyak berkecimpung di dunia industri mengingat keuntungan yang lebih besar daripada membatik dan memasarkannya. 

Namun, sampai saat ini para pembatik lebih banyak para ibu-ibu yang memiliki waktu luang. Tidak banyak dari mereka usia-usia masih muda, mayoritas mereka sudah lanjut usia. 

"Mengingat tenaga mereka masih terbatas. Kunci dalam membatik harus telaten, sabar dan tekun sehingga akan menghasilkan satu batik yang bagus. Yang terpenting kami mencoba mengelola waktu dan produksi batik yang tidak terlalu banyak," ujarnha.

Untuk segi pemasaran Nani dan Kelompok Batik Berkah Lestari mengoptimalkan sosial media, dengan kepiwaian dalam menggunakan gawai.

BACA JUGA Festival Batik 2024 Resmi Ditutup. Omzet Transaksi Capai Rp784 Juta

Adapun motif-motif batik tulis yang disukai dari Berkah Lestari diantaranya Sido Mukti, Sido Aseh, Wahyu Temurun, Truntum dan masih banyak lagi.

"Kalau yang di sini, mayoritas klasik Jogja, seperti Sido Mukti, Sido Aseh, Wahyu Tumurun, Truntum, seperti yang dibatik ibu-ibu itu, banyak pilihan di sini," tandasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU