INDOZONE.ID - Sebagian orang menganggap hutan akan tetap baik-baik saja selama penebangan dan pembakaran pohon bisa dihentikan. Akan tetapi, hutan, terutama hutan tropis, tidak hanya kumpulan pohon.
Ekosistem ini juga bergantung pada kehadiran hewan yang hidup, bergerak, dan berinteraksi di antara pepohonan.
Sayangnya, banyak spesies hewan yang kini menghilang dengan cepat, dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini berdampak besar pada kemampuan hutan dalam mengatasi kerusakan iklim.
Hutan tropis yang sehat dipenuhi kehidupan, mulai dari invertebrata, pemakan biji, pemakan daun, burung, hingga primata.
Baca juga: Indonesia Negara ke-2 yang Kehilangan Hutan Primer Terbesar, Ini Dampaknya!
Banyak hutan telah kehilangan sebagian besar hewan besar, terutama karena perburuan untuk memenuhi permintaan daging satwa liar yang meningkat.
Selain itu, deforestasi untuk pertanian dan penebangan membuat hutan terpecah menjadi bagian-bagian kecil yang tidak dapat menampung populasi spesies besar yang memerlukan ruang luas.
Defaunasi
Hilangnya hewan dari habitat yang seharusnya masih utuh disebut defaunasi. Fenomena ini menciptakan "hutan kosong", kondisi yang kini banyak terjadi di wilayah tropis maupun negara beriklim sedang.
Contohnya Inggris, kehilangan sebagian besar spesies terbesarnya seperti lynx, serigala, dan burung wisent. Populasi burung hutan pun menurun hingga seperempat sejak 1970.
Beberapa penelitian telah mengamati dampak defaunasi, namun kebanyakan dalam lingkup terbatas. Untuk mendapatkan gambaran global, peneliti dari University of Kent bekerja sama dengan WWF UK melakukan meta-analisis terhadap studi terkait hilangnya fauna hutan di seluruh dunia.
Hasil penelitian menunjukkan fakta mengkhawatirkan, hilangnya hewan dapat mengganggu kemampuan hutan untuk beregenerasi. Dampak paling besar muncul ketika burung dan primata, dua kelompok penting dalam penyebaran biji pun menghilang.
Buah yang dihasilkan pohon menarik hewan untuk menyebarkan bijinya ke tempat yang lebih jauh, sehingga meningkatkan peluang tumbuhnya. Jika hewan pemakan buah punah, biji yang tersebar berkurang dan regenerasi pohon terganggu.
Perubahan ini lambat laun menggeser komposisi hutan. Pohon-pohon yang bergantung pada hewan akan digantikan oleh spesies yang menumpukan penyebaran biji pada angin. Pohon jenis ini umumnya lebih kecil dan menyimpan lebih sedikit karbon.
Jadi, kapasitas penyimpanan karbon hutan menurun, meski deforestasi berhasil dihentikan. Padahal, sekitar 20% karbon dioksida yang dihasilkan manusia diserap vegetasi dan tanah, dan separuhnya dari hutan tropis.
Upaya Melindungi Hutan
Upaya global seperti Reducing Emissions from Deforestation and forest Degradation atau Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+), yang memungkinkan negara maju membayar negara tropis demi melindungi hutan, sangat bergantung pada kemampuan hutan menyimpan karbon secara konsisten.
Baca juga: Metode Terapi Hewan, Ketika Satwa Jadi “Teman Penyembuh” Manusia
Namun, pemantauan melalui citra satelit tidak bisa melihat kualitas ekologi di bawah kanopi, termasuk defaunasi. Penelitian ini menekankan bahwa hilangnya fauna harus jadi indikator penting dalam pengelolaan karbon hutan.
Melindungi seluruh spesies hewan di hutan merupakan bagian dari langkah krusial. Selain mempererat penegakan hukum terhadap perburuan, diperlukan investasi pada program konservasi yang dapat menyediakan sumber protein alternatif bagi masyarakat yang masih bergantung pada daging satwa buruan.
Mengatasi defaunasi memang sulit, tapi penting buat menjaga hutan tetap kaya spesies dan efektif sebagai penyerap karbon. Melestarikan satwa liar bukan cuma soal menjaga keindahan alam, tapi juga soal menyelamatkan diri dari dampak krisis iklim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Conversation