INDOZONE.ID - Belakangan ini, olahraga air seperti menyelam semakin diminati banyak orang. Namun, perlu diingat bahwa menyelam bukan aktivitas yang sepenuhnya aman.
Lingkungan bertekanan tinggi dan minim oksigen membuatnya tergolong olahraga berisiko. Berikut penjelasan tentang beberapa cedera yang paling umum dialami penyelam dan bagaimana cara mencegahnya.
3 Jenis Cedera Saat Menyelam
1. Barotrauma
Salah satu masalah telinga dan sinus saat menyelam yang paling sering dialami adalah barotrauma. Kondisi ini terjadi karena ketidakseimbangan tekanan antara udara di dalam tubuh dengan tekanan air di sekitar. Akibatnya, jaringan lunak di area tertentu bisa mengalami kerusakan.
Jenis barotrauma yang paling umum adalah barotrauma telinga tengah, yang terjadi ketika telinga gagal menyesuaikan diri terhadap perubahan tekanan. Gejalanya bisa berupa:
- Telinga terasa penuh atau tersumbat
- Nyeri hebat di telinga
- Pusing
- Mual atau muntah
- Gangguan pendengaran
Selain di telinga, barotrauma juga dapat menyerang paru-paru dan sinus, yang dikenal sebagai cedera paru-paru akibat menyelam atau barotrauma paru. Kondisi ini bisa menyebabkan sesak napas, batuk berdarah, dan nyeri dada. Sedangkan barotrauma sinus ditandai dengan sakit kepala, hidung berdarah, dan rasa nyeri di area wajah.
Jika kamu mengalami gejala-gejala tersebut, hentikan penyelaman dan naik ke permukaan perlahan. Jangan ragu untuk mencari pertolongan medis agar kondisimu bisa segera ditangani dengan aman.
Baca juga: Ini Dia 5 Destinasi Wisata Bahari Terpopuler di Indonesia, Cocok untuk Berenang hingga Menyelam
2. Penyakit Dekompresi
Penyakit dekompresi saat menyelam merupakan kondisi serius yang bisa dialami oleh siapa pun, baik penyelam pemula maupun profesional. Penyakit ini terjadi ketika penyelam naik ke permukaan terlalu cepat, sehingga nitrogen dalam darah membentuk gelembung-gelembung kecil yang dapat menghalangi aliran darah.
Gejala penyakit dekompresi antara lain:
- Nyeri sendi
- Pusing dan sakit kepala
- Kelelahan ekstrem
- Kesemutan atau mati rasa
- Kelemahan otot
- Gangguan konsentrasi
Menurut Divers Alert Network (DAN), risiko penyakit dekompresi meningkat jika penyelaman dilakukan terlalu dalam (lebih dari 18 meter), berlangsung lama, atau dilakukan berulang kali tanpa jeda cukup. Kondisi tubuh yang lelah, dehidrasi, dan suhu air dingin juga memperburuk risikonya.
Untuk menghindarinya, selalu perhatikan laju pendakian ke permukaan dan gunakan alat bantu sesuai standar keselamatan menyelam.
Baca juga: Lagi Asyik Menyelam, Pria Ini Temukan iPhone dan Kamera di Air Terjun Lubuk Bonta
3. Cedera dari Biota Laut
Selain cedera akibat tekanan, penyelam juga berisiko mengalami cedera dari biota laut. Meski sebagian besar makhluk laut bersifat pasif, beberapa di antaranya bisa menyerang saat merasa terancam. Hewan seperti ubur-ubur, ikan pari, atau karang beracun dapat menimbulkan iritasi, luka, hingga keracunan.
Cedera semacam ini termasuk jenis cedera saat menyelam yang sering terjadi pada perairan tropis. Luka akibat biota laut bisa berupa goresan, bengkak, pendarahan, atau infeksi karena bakteri laut. Maka dari itu, penting untuk menjaga jarak dan tidak menyentuh hewan laut, meskipun tampak jinak atau tidak berbahaya.
Menyelam memang menyenangkan, tapi selalu ada risiko yang mengintai di balik keindahan bawah laut. Mulai dari masalah telinga dan sinus saat menyelam, cedera paru-paru akibat menyelam, hingga penyakit dekompresi saat menyelam, semuanya bisa dihindari dengan persiapan yang matang dan pemahaman akan risiko cedera saat menyelam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Vanguardngr.com