Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti, Semarang (Farikha/Z Creators)
INDOZONE.ID - Di lereng perbukitan Semarang, tepatnya di kawasan Wungkal Kasap, Kelurahan Pudakpayung, berdiri sebuah tempat ibadah yang menyimpan nilai sejarah dan spiritualitas tinggi, yaitu Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti. Menurut keterangan Bapak Wahyudi, nama “Sima 2500 Buddha Jayanti” merujuk pada pendirian vihara dan penetapan wilayah sima (batas suci) yang dilakukan 2.500 tahun setelah parinibbana (wafatnya) Buddha Gotama.
Vihara ini didirikan oleh Yang Arya Ashin Jinarakkhita bersama Ir. Sutopo, M.Sc. (Goei Tjwan Ling) sebagai bentuk penghormatan terhadap ajaran Buddha. Tujuannya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat tinggal para bhikkhu, lokasi penahbisan bhikkhu baru, pusat latihan meditasi, serta simbol pelestarian nilai-nilai kedamaian, kasih sayang, dan kebijaksanaan.
Sejak awal pendiriannya, Vihara Sima menjadi saksi bisu perjalanan spiritual masyarakat. Bangunannya yang sederhana namun khidmat, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan hawa pegunungan yang sejuk, menghadirkan suasana hening yang menenangkan batin. Tak heran jika vihara ini sering menjadi tujuan ziarah dan perenungan, baik bagi umat Buddha maupun wisatawan spiritual dari berbagai daerah dan negara.
Baca juga: Melihat Keunikan Graha Maria Annai Velangkanni, Gereja yang Menyerupai Vihara di Medan
Aktivitas dan Tradisi Keagamaan di Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti, antara lain:
Latihan meditasi untuk umum setiap Kamis malam Jumat.
Puja bakti Minggu pagi pukul 09.00–11.00 WIB.
Puja bakti bulan purnama dan perayaan hari besar seperti Waisak.
Tempat singgah para bhikkhu thudong dari luar negeri sebelum melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur.
Upacara uposatha, yang dilaksanakan setiap purnama oleh para bhikkhu.
Masa vassa, pelatihan diri selama tiga bulan (Juli–Oktober) setiap tahun.
Penahbisan samanera (calon bhikkhu).
Selain menjadi pusat kegiatan spiritual, Vihara Sima juga terbuka sebagai ruang edukasi dan interaksi lintas komunitas. Banyak warga, pelajar, dan peneliti dari berbagai daerah melakukan studi banding dan kunjungan belajar untuk mengenal tradisi Buddhis dan kearifan lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung