INDOZONE.ID - Ikan terbang atau biasa dikenal ikan torani alias ikan tuing-tuing salah satu ikan langka (musiman) yang dikenal berasal dari Mamuju Sulawesi Barat (Sulbar) dan banyak digemari orang.
Ikan ini biasanya disajikan dengan cara diasapi. Bukan hanya di Sulbar, ikan tuing-tuing asap bisa ditemukan di warung-warung yang ada di Sulawesi Selatan, termasuk di Kota Parepare.
Cara masak ikan ini terbilang unik. Ikan tuing-tuing yang sudah dibersihkan kemudian direndam dengan air garam, lalu diletakkan di atas pelepah daun kelapa di atas tungku kayu kering.
Dalam prosesnya, tidak ada kobaran api yang menyentuh kulit si ikan. Itu makanya di sebut tuing-tuing asap karena asap inilah yang mematangkan daging ikan terbang.
Pertanda bahwa ikan sudah matang adalah ketika warna kulit menggelap dan daging ikan sudah mulai mengeras. Tidak perlu waktu yang terlalu lama.
Semakin banyak asap yang mengepul, semakin cepat prosesnya. Para pemilik warung juga kerap kali memanasi ikan agar tuing-tuingnya lebih gurih dan enak disantap.
Di Kota Parepare sendiri, ikan tuing-tuing asap dapat dinikmati di warung kopi (warkop) Chilos yang terletak di Jalan Mattirotasi, Kelurahan Sumpang Minangae, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare.
Di Warkop Chilos ikan tuing-tuing dapat disantap mulai sore hingga malam hari. Ikan tuing-tuing ini paling digandrungi pelanggan untuk disantap jelang matahari terbenam (sunset). Seporsi harganya Rp15 ribu sudah dapat beberapa ikan.
Uniknya, sambal ikan tuing-tuing ini dicampur dengan minyak kelapa yang diolah sendiri. Kemudian diberi jeruk nipis, sehingga rasanya makin gurih.
"Ciri khas ikan tuing-tuing di sini yaitu kansenya (nasi santan) yang mendukung. Begitupun lomboknya yang pedas sangat mendukung," kata Pemilik warung, Chilos.
Menurut Chilos, ikan tuing-tuing ini adalah ikan musiman. Namun, ia menginginkan ikan tuing-tuing bisa selalu dinikmati pelanggannya, makanya Chilos berupaya mencari hingga ke pelosok.
"Tapi saya punya ciri khas tersendiri jadi saya mau tiap satu tahun ada makanya mencari dari pelosok-pelosok apabila nelayan di Parepare tidak dapat," terangnya.
Meski konsep warung kopi, tapi Chilos menyiapkan menu ikan tuing-tuing karena di Parepare semakin banyak warkop, sehingga ia memunculkan ciri khas dengan adanya menu ikan tuing-tuing.
"Saya belok haluan cepat agar tidak tenggelam. Akhirnya saya memunculkan ikan tuing-tuing ini dan alhamdulillah banyak yang suka. Ini bisa dinikmati dari sore hari hingga jam 10 malam," jelasnya.
Saking langkanya karena tuing-tuing ini yang sifatnya musiman, kadang pelanggan pesan sebelum datang menikmatinya.
"Banyak penggemar ikan tuing-tuing dari luar daerah, seperti Makassar, Sidrap, Pinrang bahkan dari asalnya sendiri yaitu Mamuju. Ada datang ke sini untuk menikmati tuing-tuing. Apalagi dalam porsi banyak, kadang ada yang booking tempat," tandas Chilos.
PENULIS: NURWANA
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Z Creators