Senin, 06 APRIL 2026 • 20:00 WIB

Fakta Pecel Semanggi, Kuliner Ikonik Surabaya yang Diakui Negara Tapi Terancam Hilang

Author

Pecel Semanggi Dempo Surabaya. (Z Creators/Octavianne Widjaja)

INDOZONE.ID - Di tengah derasnya arus modernisasi dan menjamurnya makanan kekinian, kuliner tradisional Indonesia tetap memiliki daya tarik yang tak tergantikan. Salah satunya adalah pecel, hidangan sederhana berbasis sayuran dengan siraman bumbu kacang yang sudah menjadi favorit lintas generasi.

Namun, dari sekian banyak jenis pecel di Indonesia, ada satu yang menyimpan cerita unik sekaligus kekhawatiran: pecel semanggi khas Surabaya. Bukan sekadar makanan, sajian ini merupakan bagian dari identitas budaya yang kini perlahan mulai tergerus zaman.

Dari Tanaman Liar Jadi Warisan Kuliner Berharga

Pecel semanggi berasal dari wilayah Kendung, Benowo, Surabaya Barat. Dahulu, warga setempat memanfaatkan tanaman semanggi yang tumbuh liar di sekitar sawah dan bantaran sungai. Tanaman ini kemudian diolah menjadi hidangan sederhana yang dikenal sebagai “Semanggi Suroboyo”.

Proses pengolahannya pun tidak biasa. Daun semanggi yang telah dipanen biasanya dijemur terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air, lalu dikukus hingga matang. Berbeda dengan pecel pada umumnya yang menggunakan sayuran rebus, teknik kukus ini menghasilkan tekstur yang lebih khas dan rasa yang lebih “nendang”.

Kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan lokal inilah yang menjadikan pecel semanggi sebagai salah satu kuliner tradisional yang unik dan bernilai tinggi.

Baca juga: Pecel Semanggi: Kuliner Legendaris Surabaya yang Mulai Langka, Rasanya Bikin Kangen!

Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan

Salah satu daya tarik utama pecel semanggi terletak pada bumbunya. Jika pecel lain hanya mengandalkan kacang tanah, pecel semanggi memiliki racikan yang lebih kompleks.

Bumbu kacangnya dicampur dengan ubi atau ketela rambat yang sudah direbus, kemudian dihaluskan bersama gula merah dan cabai. Hasilnya adalah saus dengan perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit pedas yang terasa lebih “berisi” di lidah.

Tak hanya itu, hidangan ini juga dilengkapi dengan kecambah dan kangkung yang menambah kesegaran. Kerupuk uli (kerupuk berbahan nasi) menjadi pelengkap wajib yang memberikan tekstur renyah di setiap gigitan.

Semua disajikan menggunakan pincuk daun pisang, bukan sekadar estetika tetapi juga memberikan aroma alami yang membuat pengalaman makan semakin autentik.

Ikon Penjual Tradisional yang Penuh Ciri Khas

Daya tarik pecel semanggi tidak hanya pada rasa, tetapi juga cara penyajiannya. Para penjualnya yang umumnya adalah perempuan, memiliki ciri khas tersendiri.

Mereka biasanya mengenakan jarik dan selendang, sambil memanggul bakul berisi dagangan di punggung. Cara berjualan ini sudah menjadi bagian dari budaya yang melekat erat dengan pecel semanggi.

Namun, seiring perkembangan zaman, pemandangan ini semakin jarang ditemui. Banyak penjual yang beralih profesi, sementara generasi muda belum banyak yang tertarik untuk melanjutkan tradisi ini.

Sudah Diakui sebagai Warisan Budaya, tetapi pada tahun 2022 pecel semanggi resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh pemerintah Indonesia. Pengakuan ini menegaskan bahwa kuliner ini memiliki nilai historis dan budaya yang penting, khususnya bagi masyarakat Surabaya.

Sayangnya, pengakuan tersebut belum sepenuhnya mampu menjaga eksistensinya di lapangan. Jumlah penjual yang terus berkurang membuat pecel semanggi semakin sulit ditemukan, bahkan di kota asalnya sendiri.

Kondisi ini menjadi alarm bahwa pelestarian kuliner tradisional tidak cukup hanya dengan pengakuan formal, tetapi juga membutuhkan dukungan nyata dari masyarakat.

Baca juga: Pecel Semanggi Dempo, Kuliner Legendaris Surabaya Rasanya Autentik Banget!

Masih Ada, tetapi Harus Dicari

Meski mulai langka, bukan berarti pecel semanggi sudah hilang sepenuhnya. Beberapa titik di Surabaya masih menjadi “rumah” bagi kuliner ini, salah satunya di kawasan Taman Bungkul.

Di sana, kamu masih bisa menemukan penjual pecel semanggi, terutama pada pagi hari. Tak sedikit wisatawan yang sengaja datang untuk mencicipi kuliner legendaris ini sebagai bagian dari pengalaman khas Surabaya.

Lebih dari Sekadar Makanan

Pecel semanggi bukan hanya tentang rasa enak. Ia adalah simbol kearifan lokal, bukti kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan alam, sekaligus bagian dari sejarah panjang kota.

Jika tidak dijaga, bukan tidak mungkin kuliner ini akan benar-benar hilang di masa depan. Padahal, di balik kesederhanaannya, pecel semanggi menyimpan nilai budaya yang tak ternilai.

Saatnya Generasi Muda Ikut Melestarikan

Di era digital seperti sekarang, pelestarian kuliner tradisional bisa dimulai dari hal sederhana, mencoba, mengenalkan, hingga membagikan pengalaman di media sosial.

Jadi, kalau kamu sedang atau berencana ke Surabaya, jangan hanya berburu kuliner populer seperti rawon atau rujak cingur. Sisihkan waktu untuk mencicipi pecel semanggi.

Karena di setiap suapannya, ada cerita, sejarah, dan warisan budaya yang layak untuk terus hidup.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Indonesiakaya.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU