INDOZONE.ID - Kalau membicarakan kuliner Minang, kebanyakan orang langsung terpikir nasi Padang. Namun, ternyata ada “pendahulu” yang tak kalah legendaris, bahkan lebih dulu eksis sejak ratusan tahun lalu: nasi Kapau.
Kuliner khas dari Nagari Kapau, Bukittinggi ini bukan cuma soal rasa. Di balik sepiringnya, tersimpan cerita perjuangan para perempuan tangguh yang membuat siapa pun semakin menghargainya.
Surga Rempah yang Melahirkan Nasi Kapau
Sejak dulu, tanah Minang memang terkenal dengan kekayaan rempahnya. Kombinasi bumbu yang kuat dan teknik memasak turun-temurun melahirkan berbagai hidangan ikonik, salah satunya nasi Kapau.
Sekilas mirip nasi Padang, tetapi jangan salah. Nasi Kapau memiliki karakter tersendiri. Disajikan dengan nasi putih pera, hidangan ini dipadukan dengan aneka lauk khas yang jarang ditemukan di tempat lain.
Baca juga: Nasi Kapau Terenak di Jakarta Ada di Pasar Ini, Cobain 50 Lauknya yang Juara!
Lauk Unik yang Bikin Nagih
Yang membuat nasi Kapau berbeda terletak pada lauknya. Beberapa menu bahkan tergolong “langka” dan sangat khas, seperti:
- Gulai tambunsu (usus sapi isi tahu dan telur)
- Rendang daka-daka (dari singkong atau ayam)
- Gulai cincang tulang dan daging sapi
- Ikan mas bertelur
- Gulai babat dan aneka jeroan
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah gulai tambunsu. Teksturnya unik, kenyal di luar, lembut di dalam dengan rasa gurih yang khas. Menu ini hampir tidak pernah ditemukan pada nasi Padang biasa.
Dari Dapur ke Perjuangan Hidup
Di balik kelezatannya, ada kisah yang cukup mengharukan. Nasi Kapau sudah ada sejak abad ke-19, berawal dari para istri yang ditinggal merantau oleh suaminya.
Untuk bertahan hidup, para ibu ini berjualan nasi lengkap dengan lauk khas Kapau. Dari situlah kuliner ini berkembang dan menjadi identitas daerah.
Bisa dibilang, nasi Kapau adalah simbol ketangguhan perempuan Minang.
Cara Penyajian yang Ikonik
Kalau kamu pernah ke Pasar Bawah di Bukittinggi, pasti akan melihat satu hal unik dari penjual nasi Kapau: deretan panci besar yang ditumpuk tinggi.
Karena posisi penjual biasanya agak jauh dari pembeli, mereka menggunakan sendok panjang dari tempurung kelapa untuk menyendok lauk. Cara ini menjadi ciri khas yang membedakannya dari nasi Padang.
Baca juga: Nasi Kapau dan Nasi Padang, Serupa Tapi Tak Sama: Bukti Kekayaan Kuliner Minang
Nasi Kapau vs Nasi Padang, Apa Bedanya?
Meski terlihat mirip, ada beberapa perbedaan mencolok:
- Rasa: gulai nasi Kapau cenderung sedikit lebih asam
- Sayuran: lebih variatif, seperti kol, nangka, dan kacang panjang
- Penyajian: pembeli memilih langsung ke penjual (bukan dihidangkan ke meja)
Menariknya, sebelum nasi Padang dikenal luas seperti sekarang, nasi Kapau sudah lebih dulu menjadi favorit di Sumatera Barat. Banyak yang menyebutnya sebagai “versi awal” dari nasi Padang.
Tetap Jadi Favorit Sampai Sekarang
Hingga kini, nasi Kapau masih menjadi incaran pecinta kuliner. Cita rasanya yang autentik, kaya rempah, dan memiliki sejarah panjang membuatnya tetap relevan di tengah gempuran makanan modern.
Jadi, kalau kamu berkunjung ke Bukittinggi, jangan hanya mencari nasi Padang. Cobalah nasi Kapau agar kamu tidak hanya kenyang, tetapi juga merasakan sepotong kisah perjuangan di dalamnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesiakaya.com