Senin, 06 APRIL 2026 • 19:00 WIB

Ini Rahasia Coto Makassar Jadi Hidangan Favorit Bangsawan hingga Juara Dunia

Author

Menikmati kelezatan Coto Makassar. (Z Creator/ Muhammad Dzulkifli Idham)

INDOZONE.ID - Kalau membicarakan kuliner khas Indonesia, rasanya tidak lengkap tanpa menyebut coto Makassar. Hidangan berkuah kental ini bukan cuma soal rasa, tetapi juga memiliki cerita panjang, dari dapur kerajaan hingga panggung internasional.

Di tengah beragam kuliner khas Makassar seperti pisang epe, pallubasa, hingga es pisang ijo, coto Makassar berhasil mencuri perhatian sebagai salah satu ikon kuliner paling legendaris dari Sulawesi Selatan.

Dari Dapur Kerajaan hingga Mendunia

Siapa sangka, coto Makassar dulunya merupakan sajian eksklusif di lingkungan Kerajaan Gowa-Tallo sejak sekitar abad ke-16. Hidangan ini menjadi favorit keluarga kerajaan dan hanya disajikan untuk kalangan tertentu.

Kini, statusnya berubah drastis. Coto Makassar justru menjadi kuliner rakyat yang bisa dinikmati siapa saja, bahkan pernah mengharumkan nama Indonesia dengan meraih juara pertama di festival kuliner internasional di Malaysia.

Baca juga: 2 Rekomendasi Tempat Makan Coto Makassar Terlezat di Malang

Perpaduan Budaya dalam Satu Mangkuk

Makassar sejak dulu dikenal sebagai jalur perdagangan penting di Nusantara. Pedagang dari berbagai negara seperti Spanyol, Portugis, India, hingga Tiongkok pernah singgah di kota ini.

Tidak heran, coto Makassar menjadi hasil “percampuran rasa” dari berbagai budaya.
Sentuhan Arab dan India terasa dari kuah gurih yang kaya santan.
Pengaruh Tiongkok muncul lewat penggunaan tauco.
Rempah Timur Tengah memperkaya aroma dan rasa.

Hasilnya, satu mangkuk coto menghadirkan cita rasa yang kompleks dan khas.

Rahasia Lezat: 40 Rempah dalam Satu Sajian

Coto Makassar yang disajikan dengan buras (Z Creators/Retno Mandriyarini)

Yang membuat coto Makassar berbeda dari soto lain adalah bumbunya. Hidangan ini menggunakan “patang pulo” alias sekitar 40 jenis rempah.

Mulai dari kemiri, cengkeh, kayu manis, hingga jintan, semuanya diracik dengan teknik tradisional. Bahkan, proses memasaknya masih mempertahankan cara lama, yaitu menggunakan kuali tanah liat yang dikenal sebagai korong butta.

Tidak hanya itu, daging dan jeroan sapi seperti hati, babat, hingga limpa diolah dengan teknik khusus agar empuk, biasanya dibantu dengan pepaya muda.

Bukan Sekadar Enak, tetapi Juga Bergizi

Di balik rasanya yang gurih dan kaya, coto Makassar juga memiliki nilai gizi yang cukup tinggi. Satu porsinya dapat memenuhi sekitar 60–70% kebutuhan gizi harian, terutama sebagai makanan selingan.

Menariknya, kombinasi rempah yang digunakan dipercaya membantu menetralisir efek dari jeroan, sehingga tetap aman dikonsumsi selama tidak berlebihan.

Baca juga: Kuliner Khas Makassar yang Bikin Kangen: Dari Coto Sampai Es Pisang Ijo Legendaris!

Cara Menikmati yang “Tidak Biasa”

Uniknya, masyarakat Makassar memiliki kebiasaan tersendiri saat menikmati coto. Hidangan ini biasanya disantap bukan sebagai makan utama, melainkan di antara waktu makan, sekitar pukul 09.00–11.00 pagi.

Coto disajikan dalam mangkuk kecil dengan sendok khusus, lalu disantap bersama:

  • Burasa atau ketupat
  • Sambal tauco khas
  • Kadang ditambah perasan jeruk nipis

Perpaduan ini membuat rasanya semakin nikmat.

Lebih dari Sekadar Kuliner

Coto Makassar bukan hanya makanan, melainkan warisan budaya yang mencerminkan sejarah panjang, akulturasi, dan kekayaan rempah Indonesia.

Dari hidangan bangsawan hingga menjadi favorit banyak orang, satu hal yang pasti: coto Makassar selalu memiliki tempat spesial di hati pecinta kuliner Nusantara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Indonesiakaya.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU