INDOZONE.ID - Ahmad’s Fried Chicken menjadi perbincangan hangat di Malaysia setelah berhasil melejit dalam waktu singkat.
Bisnis kuliner lokal ini lahir dari aksi boikot terhadap merek-merek global yang dikaitkan dengan konflik Gaza.
Kehadirannya menawarkan alternatif ayam goreng dengan harga terjangkau dan cita rasa yang tak kalah saing.
Lantas seperti apa kisah sukses dibalik bisnis makanan Ahmad’s Fried chiken ini? Berikut penjelasan.
Baca juga: Resep Mini Quiche Ala Chef Adele: Gurih dan Praktis, Cocok untuk Keluarga dan Ide Bisnis Rumahan
Dari Aksi Boikot ke Lahirnya Ahmad’s Fried Chicken
Pengusaha asal Malaysia, Lailatul Sarahjana Mohd Ismail, meluncurkan Ahmad’s Fried Chicken pada musim panas 2024 berangkat dari keputusan personal yang berujung besar.
Sikapnya memboikot merek-merek Amerika yang dinilai terkait dengan dukungan AS terhadap Israel di tengah konflik Gaza menjadi pemicu utama lahirnya usaha ini.
Keputusan itu bahkan bermula dari momen sederhana di rumah, ketika ia menolak permintaan anak-anaknya untuk makan di McDonald’s.
Bersama sang suami, Mohd Taufik Khairuddin, Lailatul kemudian mendirikan Ahmad’s Fried Chicken dengan modal awal sekitar RM700.000.
Langkah tersebut tak hanya menjadi bentuk sikap politik personal, tetapi juga awal dari bisnis lokal yang kini mencuri perhatian publik Malaysia.
Tumbuh Pesat dan Cerminkan Perubahan Pola Konsumsi
Dalam waktu relatif singkat, Ahmad’s Fried Chicken berkembang pesat dengan membuka 35 gerai di berbagai wilayah Malaysia.
Setiap gerainya dilaporkan mampu menghasilkan pendapatan sekitar RM3 juta, angka yang menunjukkan tingginya respons pasar.
Menu yang ditawarkan pun dirancang menyaingi merek global, mulai dari burger “Big Mad’s” hingga paket ayam goreng dengan harga yang lebih terjangkau.
Baca juga: 4 Jenis Kemasan Makanan untuk Kamu yang Baru Bisnis Kuliner
Perusahaan ini bahkan menargetkan ekspansi hingga 110 gerai pada akhir 2026. Fenomena ini mencerminkan pergeseran preferensi konsumen Malaysia yang didorong solidaritas terhadap Palestina, sejalan dengan kesuksesan merek lokal lain seperti ZUS Coffee yang pada 2024 melampaui Starbucks.
Menariknya kondisi tersebut menandakan bahwa dampak boikot bukan sekadar tren sesaat, melainkan perubahan pola konsumsi yang semakin mengakar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/feovie