INDOZONE.ID - Peringatan Hari Pahlawan tahun ini menghadirkan makna yang berbeda bagi warga Desa Sukobubuk, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Di desa kecil ini, semangat perjuangan tidak lagi hanya dikenang, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata: membangun kemandirian energi dan membuka akses digital bagi seluruh warga.
Melalui kegiatan “Menghubungkan Desa, Menumbuhkan Harapan” yang diinisiasi Desabumi bersama Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia dan didukung Dayabumi Telekomunikasi, Sukobubuk menunjukkan bagaimana inovasi energi terbarukan dan konektivitas internet mampu mengubah kehidupan masyarakat desa.
Kini Sukobubuk telah berdiri sebagai model Desa Energi Mandiri melalui pemanfaatan PLTS berkapasitas 10 kWp dan baterai 20 kWh. Sistem ini menggerakkan pompa irigasi, cold storage hasil pertanian, serta penerangan fasilitas umum.
Energi surya yang stabil dipadukan dengan akses internet satelit membuka jalan baru bagi pertanian modern, pengolahan pangan lokal, hingga pemasaran produk UMKM secara digital.
“Kami membangun sistem dengan mendengarkan kebutuhan masyarakat melalui diskusi, tujuannya untuk mensinergikan kebutuhan dan potensi alam yang ada. Ide ini didorong oleh masyarakat, Desabumi dan SRE membantu merumuskan untuk menciptakan teknologi tepat guna,” ujar pendiri SRE, Zagy Berian.
Pendiri Desabumi, Gamma Thohir, juga menekankan bahwa Sukobubuk merupakan bukti bahwa desa dapat berkembang pesat ketika energi bersih dan akses digital hadir secara bersamaan.
“Desa Sukobubuk menjadi contoh nyata bagaimana kemandirian energi dan akses digital dapat berjalan beriringan untuk mendorong kemajuan desa,” ujarnya.
Manfaatnya dirasakan langsung oleh petani. Pompa irigasi bertenaga surya membuat pengairan lebih mudah dan murah, bahkan saat kemarau panjang.
Cold storage membantu menjaga kualitas hasil panen lebih lama. Para petani mengaku, dengan hadirnya PLTS, hasil panen meningkat hingga 30 persen.
Baca juga: Desa Ngabab: Wisata Edukasi yang Hidup di Tengah Alam dan Budaya
“Sejak ada PLTS, pengairan di lahan garap jadi jauh lebih mudah karena pompa air bisa beroperasi kapan saja tanpa khawatir kekurangan daya. Hasil panen kami jadi lebih efektif, dan penghasilan pun ikut meningkat,” kata salah satu warga.
Akses internet desa juga membuka pintu baru bagi pelaku UMKM. Hasil panen dan produk olahan kini dapat dipasarkan secara online, memberi peluang lebih luas dibandingkan sekadar menjual di pasar lokal.
“Dulu kami hanya menjual di pasar lokal, sekarang bisa melakukan pemasaran lewat online. Pemasukan jadi lebih stabil,” tutur Rifqi Suweno, pelaku UMKM sekaligus Sekretaris Desa Sukobubuk.
Melalui program Saba Desa – Energi dan Pangan, warga diajak melihat langsung cara kerja PLTS serta berdialog tentang pengelolaan energi dan strategi peningkatan produktivitas pertanian. Kegiatan ini menegaskan bahwa transformasi energi dan digitalisasi desa hanya dapat sukses ketika masyarakat terlibat aktif.
Momentum Hari Pahlawan di Sukobubuk menjadi pengingat bahwa perjuangan masa kini hadir dalam bentuk yang berbeda: menjaga lingkungan, memperkuat ekonomi lokal, dan membuka akses teknologi bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Kalau dulu pahlawan berjuang untuk kemerdekaan, kini kita berjuang untuk keberlanjutan,” ujar Gamma Thohir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers