Ilustrasi seorang ibu sedang membuat dan memasak Lapa-Lapa. (AI Generated)
INDOZONE.ID - Provinsi Sulawesi Tenggara tidak hanya menawarkan keindahan tempat wisatanya namun terdapat warisan kuliner yang menjadi identitas sakral bagi Suku Buton dan Muna yaitu Lapa-Lapa.
Makanan yang berbahan dasar beras dan santan ini bukan sekadar hidangan pengiring, melainkan manifestasi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui teknik memasak yang presisi.
Secara teknis, Lapa-lapa merupakan olahan beras yang dimasak dua kali secara bertahap. Tahap pertama adalah proses ngaru yakni memasak beras dengan santan hingga setengah matang.
Baca juga: Dijuluki Negeri 1.000 Gua, Buton Tengah Juga Punya Pantai Eksotik yang Wajib Kamu Kunjungi
Tahap berikutnya yakni dilanjutkan dengan pengukusan di dalam balutan janur kelapa muda yang diikat kuat berbentuk memanjang.
Dilansir dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, kunci kelezatan Lapa-lapa terletak pada rasa santan yang digunakan.
Santan kental tidak hanya memberikan rasa gurih yang dominan (fatty taste), tetapi juga berfungsi sebagai pengawet alami sehingga makanan ini dapat bertahan hingga tiga hari dalam suhu ruang.
Bagi masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya Muna dan Buton, Lapa-Lapa adalah menu wajib dalam upacara adat dan hari besar keagamaan.
Kehadirannya sering kali menjadi penanda stratifikasi sosial dan perekat hubungan kekeluargaan.
Dalam buku "Sejarah dan Kebudayaan Buton" yang ditulis oleh Drs Anwar dkk, disebutkan bahwa penyajian makanan dalam tradisi Buton (termasuk Lapa-lapa) memiliki tata cara tertentu yang mencerminkan nilai etika dan penghormatan kepada tamu.
Baca juga: FOTO: Mata Biru dan Merah dari Pulau Buton dan Muna
Proses pembuatannya yang memakan waktu lama menuntut kerja sama kolektif, yang dalam sosiologi lokal dikenal sebagai semangat gotong royong atau pohamba-hamba.
Lapa-lapa jarang dinikmati langsung tanpa adanya makanan pendamping lainnya. Standar gastronomi Buton-Muna mengharuskan adanya pendamping berupa ikan kering (ikan asin) dan Sambal Kaluku.
Dalam salah satu referensi menjelaskan bahwa Sambal Kaluku (parutan kelapa sangrai berbumbu) memberikan dimensi rasa pedas-manis yang menyeimbangkan rasa gurih lemak dari Lapa-lapa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal