Kolak Pisang (cookpad.com/fransiska arie)
INDOZONE.ID - Begitu beduk magrib berkumandang, meja makan masyarakat Indonesia terasa kurang tanpa kehadiran semangkuk kolak hangat atau beberapa butir kurma. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya sejak kapan kebiasaan ini muncul dan mengapa kedua menu ini begitu penting di setiap bulan puasa? Ternyata, di balik rasanya yang manis dan menggoda selera, terdapat jejak sejarah panjang serta strategi dakwah yang diwariskan secara turun-temurun oleh para pendahulu kita.
Banyak yang belum menyadari bahwa kata “kolak” kemungkinan besar diserap dari kosakata bahasa Arab, yakni khalaqayang berarti menciptakan atau merujuk pada Sang Pencipta. Para ulama di tanah Jawa pada masa lalu, termasuk anggota Wali Songo, menggunakan kolak bukan sekadar sebagai hidangan pengganjal perut, melainkan sebagai media dakwah yang sangat halus untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat lokal.
Isian di dalam semangkuk kolak pun ternyata memiliki arti simbolis yang mendalam. Sebagai contoh, penggunaan pisang kepok sering kali diartikan sebagai ajakan agar masyarakat segera “kapok” atau bertobat dari segala kesalahan dan dosa masa lalu. Selain itu, ada juga ubi jalar yang dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah telo pendem. Istilah ini mengandung filosofi agar manusia senantiasa mengedepankan sikap rendah hati dan selalu mengingat bahwa suatu saat mereka akan “dipendem” atau dikubur di dalam tanah. Melalui semangkuk kolak, momen berbuka puasa pun berubah menjadi sarana refleksi spiritual kepada Tuhan.
Baca juga: 7 Takjil Ramadhan Favorit untuk Buka Puasa: Mana yang Paling Kamu Suka?
Berbeda dengan kolak yang merupakan produk budaya lokal, kurma adalah buah impor yang masuk ke Nusantara seiring dengan masuknya pengaruh Islam. Para pedagang dari wilayah Arab dan Gujarat membawa buah kurma sebagai bekal perjalanan jauh sekaligus sebagai komoditas dagang sejak ratusan tahun lalu. Kurma menjadi sangat populer karena daya tahannya yang luar biasa dalam cuaca ekstrem serta kandungan energinya yang tinggi.
Memasuki abad ke-19, seiring dengan berkembangnya rute ibadah haji, popularitas kurma semakin meroket di kalangan penduduk lokal. Para jemaah haji yang baru pulang dari Tanah Suci hampir selalu membawa kurma sebagai oleh-oleh istimewa bagi kerabat di kampung halaman. Karena teksturnya yang lembut dan rasa manis alaminya mampu mengembalikan stamina dengan cepat, kurma akhirnya dianggap sebagai makanan paling ideal untuk membatalkan puasa sesuai tuntunan sunah Rasulullah SAW.
Ilustrasi menu takjil buka puasa (photo/pexels/mentatdgt)
Secara masif, kampanye “berbukalah dengan yang manis” mulai mengakar kuat di kalangan masyarakat perkotaan Indonesia sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an. Kampanye ini awalnya muncul sebagai bentuk edukasi kesehatan agar masyarakat segera memulihkan kadar gula darah yang menurun drastis setelah seharian penuh menahan lapar dan haus. Dari sinilah, menu-menu seperti kolak, es buah, hingga bubur sumsum menjadi bagian tak terpisahkan dari bulan Ramadan di Indonesia.
Baca juga: 6 Ide Takjil Diet: Tetap Manis Tanpa Takut Gemuk
Di Indonesia, fenomena pasar sore atau pasar takjil musiman biasanya mulai muncul pukul 15.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka. Bagi kamu yang berada di Jawa Tengah, ada beberapa lokasi ikonik yang wajib dikunjungi. Di Semarang, kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman menjadi pusat takjil legendaris, tempat kamu bisa menemukan kolak hingga makanan khas seperti ganjel rel.
Tak kalah meriah, di Kota Solo, kawasan Pasar Gede menjadi titik utama untuk berburu takjil tradisional. Jika ingin suasana yang lebih kekinian, kamu bisa bergeser ke Pasar Takjil Manahan atau area Kampung Ramadan di Balai Kota Solo. Di sana, deretan pedagang UMKM menyajikan variasi kolak dan kurma yang siap memanjakan lidah. Berburu takjil di tempat-tempat ini menunjukkan bahwa meski zaman terus berubah, menu-menu legendaris tersebut tetap memiliki tempat spesial di hati lintas generasi masyarakat Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nu.or.id