INDOZONE.ID - Seorang penjual makanan membagikan pengalamannya saat memutuskan membatalkan pesanan pembeli karena permintaan yang dinilai terlalu rinci dan berpotensi menimbulkan masalah setelah pesanan diterima.
Kisah tersebut diunggah melalui akun Threads @xolovechia pada Kamis (11/12/2025). Dalam unggahannya, penjual menjelaskan bahwa pembatalan dilakukan sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi keluhan di kemudian hari. Ia khawatir makanan tidak sampai ke tangan pembeli dalam kondisi optimal, sehingga justru merugikan pihak penjual.
Baca juga: Demi Topping Makanan Melimpah, Wanita ini Prank Bikin Status, Publik Kasihan sama Penjual
Pesanan tersebut tercatat atas nama MichaeL. Menurut penjual, jumlah catatan khusus dalam satu pesanan terbilang berlebihan dan membuat proses pengerjaan menjadi sangat rumit. Adapun rincian pesanannya sebagai berikut:
Melihat banyaknya permintaan detail tersebut, penjual akhirnya memilih membatalkan pesanan. Ia menilai keputusan itu lebih aman dibandingkan harus menghadapi risiko komplain jika makanan tiba dalam kondisi dingin. “Lebih baik cancel daripada bermasalah. Kalau makanan sampai dingin, nanti penjual yang disalahkan,” tulisnya.
Unggahan tersebut langsung memancing berbagai reaksi dari warganet. Tak sedikit penjual lain yang mengaku mengalami hal serupa dan merasa sangat terkait dengan cerita tersebut.
“Pernah dapat pembeli seperti ini. Aku jual bahan baku, bukan makanan jadi. Mau cancel tapi takut rating toko turun. Sudah berusaha amanah, tapi tetap dianggap ada yang kurang dan diminta pengembalian dana sebagian,” tulis akun @agnes***.
Baca juga: Bu Tumyah, Penjual Geblek Makanan Unik yang Gurih di Magelang
Warganet lain juga menyarankan agar penjual tidak ragu membatalkan pesanan dengan catatan yang dianggap tidak wajar. “Kalau dapat notes aneh-aneh mending cancel. Aku pernah nurutin semua request, kasih cabai sampai empat bungkus, malah dapat rating bintang satu. Padahal pesannya bakso tanpa garam, jelas hambar,” tulis akun @luffy***.
Sementara itu, ada pula warganet yang menyoroti sikap pembeli yang kerap menyalahkan penjual tanpa memahami situasi di lapangan. “Pas Lebaran banyak resto tutup dan driver libur. Customer bilang restoran sepi karena difotoin driver, padahal antrian banyak. Pesan jam 5.57, dapat driver jam 7.00. Restoran juga gak berani masak dulu karena risiko gak dapat driver,” tulis akun @tsn***.
Kisah ini kembali menyoroti dilema para pelaku usaha kuliner dalam menghadapi permintaan pembeli yang terlalu detail, serta risiko komplain yang bisa berdampak pada reputasi penjual di platform daring.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Threads/@xolovechia