INDOZONE.ID - Di tengah arus tren kuliner yang semakin modern, siapa sangka mi berwarna kusam dan tampak “kotor” justru menjadi incaran para pencinta kuliner sejati?
Namanya Mi Lethek—kuliner tradisional khas Bantul, Yogyakarta, yang saat ini justru naik daun, bukan hanya karena keunikannya, tapi juga karena proses pembuatannya yang langka dan nyaris punah.
Baca juga: Resep Puding Matcha Lembut dan Manis, Bisa Jadi Ide Jualan
Kalau biasanya mi identik dengan tekstur kenyal dan warna kuning yang menggoda, Mi Lethek justru hadir dengan penampilan yang kontras—kusam, sederhana, tapi menyimpan cita rasa otentik yang bikin penasaran.
Warnanya pucat kecokelatan, bahkan terkesan "dekil". Tapi justru dari situlah nama “lethek” yang berarti “kotor” dalam bahasa Jawa, berasal.
Jangan salah sangka, kekusaman mi ini bukan karena jorok, melainkan karena mi ini tidak mengandung pemutih, pengawet, atau pewarna buatan sedikit pun. Semua bahan disusun alami, turun-temurun sejak era kolonial Belanda.
Mi Lethek terbuat dari campuran tepung singkong dan gaplek (ketela yang dikeringkan). Tidak ada campuran telur seperti pada mi modern. Karena itulah warnanya lebih keruh.
Tapi dari segi rasa, justru terasa otentik, gurih alami, dan memberi tekstur yang unik saat dikunyah. Inilah cita rasa tradisi yang tidak bisa digantikan oleh mi instan atau buatan pabrik.
Baca juga: Resep Creamy Mushroom Soup yang Gurih, Lembut, dan Bikin Nagih!
Salah satu hal yang membuat Mi Lethek begitu istimewa adalah proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional—tanpa pewarna, tanpa pengawet, dan digiling dengan tenaga sapi, menciptakan rasa yang jujur dan otentik.
Di Dusun Bendo, Bantul, terdapat produsen mi legendaris yang masih menggunakan gerobak kayu besar yang ditarik sapi untuk menggiling adonan mi.
Pemandangan ini seperti kembali ke masa lalu, karena hampir tidak ditemukan lagi di zaman serba otomatis sekarang.
Prosesnya panjang dan mengandalkan cuaca. Setelah digiling, adonan dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa jam hingga benar-benar kering.
Barulah setelah itu dipotong-potong dan siap diolah. Tidak heran, produksi Mi Lethek sangat terbatas dan tidak bisa dikejar secara massal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Channelnewasia.com