INDOZONE.ID - Di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, tersembunyi sebuah kampung adat yang sering dijuluki "desa diatas awan".
Namanya Wae Rebo, pemukiman tradisional suku Manggarai yang berdiri di pegeunungan Flores, Nusa Tenggara Timur, dan telah diakui sebagai warisan budaya Dunia oleh UNESCO sejak 2012.
Rumah Adat Mbaru Niang yang Ikonik
Daya tarik utama Wae Rebo adalah tujuh rumah adat berbentuk kerucut bernama Mbaru Niang. Rumah-rumah ini tersusun melingkar di atas bukit, dibangun tanpa paku, dan terdiri dari lima lantai berbeda yang masing-masing punya fungsi tersendiri.
Baca juga: 10 Tempat Wisata di Flores Terbaru 2025 Cocok Untuk Liburan
Mulai dari tempat tinggal hingga lumbung penyimpanan hasil panen. Satu rumah biasanya dihuni beberapa keluarga sekaligus, menjadikannya simbol kebersamaan yang masih dijaga hingga kini.
Menurut cerita turun-temurun, warga Wae Rebo merupakan keturunan Empo Maro, leluhur yang berasal dari Minangkabau dan memutuskan menetap di Flores usai mendapat petunjuk dalam mimpi.
Nama "Wae" sendiri berarti air, merujuk pada dua sumber mata air yang menopang kehidupan desa ini selama belasan generasi.
Untuk mencapai Wae Rebo, perjalanan dimulai dari Labuan Bajo atau Ruteng menuju Desa Denge, desa terakhir yang bisa diakses kendaraan bermotor.
Dari Denge, wisatawan harus melanjutkan trekking sekitar 3-4 jam melintasi hutan tropis dan jalur perbukitan untuk tiba di Wae Rebo.
Medan yang menantang ini justru jadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman menuju desa yang nyaris tanpa sinyal seluler tersebut.
Aturan Baru Tiket Masuk (2026)
Sejak 1 Mei 2026, pengelola Wae Rebo resmi mengubah sistem pembayaran tiket masuk. Kini seluruh proses registrasi dan pembayaran wajib dilakukan di Wae Rebo Tourist Information Center, Dusun Kombo.
Sebelum wisatawan mendaki menuju desa, bukan lagi dibayarkan langsung di lokasi seperti sebelumnya. Perubahan ini bertujuan meningkatkan ketertiban administrasi dan pendataan pengunjung.
Selain tiket, wisatawan umumnya juga dikenakan biaya kontribusi wajib dan jasa pemandu lokal, ditambah biaya menginap jika ingin bermalam di rumah adat.
Pengalaman Budaya yang Otentik
Begitu tiba, pengunjung akan disambut kepala desa melalui upacara adat penyambutan, lalu disuguhi kopi Flores khas sebagai penghangat.
Malam hari di Wae Rebo menawarkan pemandangan langit yang jarang ditemukan di dataran rendah, gemerlap bintang dan Milky Way yang terlihat jelas tanpa polusi cahaya.
Waktu terbaik berkunjung adalah sekitar April hingga November, saat musim kemarau membuat jalur trekking lebih bersahabat.
Baca juga: Menikmati Pesona Desa Wae Rebo di Pulau Flores NTT
Jika beruntung, wisatawan yang datang di bulan November juga bisa menyaksikan Upacara Adat Penti, ritual syukur atas hasil panen yang digelar warga setempat.
Wae Rebo bukan sekadar destinasi wisata, Ia adalah potret hidup bagaimana sebuah komunitas kecil di pegunungan Flores berhasil menjaga warisan leluhurnya tetap utuh di tengah arus modernisasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Traveloka, Indonesia Kaya, Kemenpar