INDOZONE.ID - Di balik tampilannya yang sederhana, Pasar Beriman Tomohon menyimpan kejutan tak terduga bagi para pengunjung.
Begitu melangkah ke dalam, suasana berubah drastis—beragam jenis daging dijajakan secara terbuka, mulai dari yang umum seperti ayam dan sapi, hingga yang ekstrem dan kontroversial seperti kelelawar, anjing, dan ular.
Keberagaman ini mencerminkan tradisi kuliner lokal yang berani, namun juga kerap memicu perdebatan di ranah etika dan kesehatan.
Ini bukan sekadar tempat jual beli sayur atau ikan—ini adalah arena bagi yang bernyali kuat.
Di sinilah kamu bisa melihat langsung bagaimana eksotisme kuliner Indonesia melampaui batas rasa penasaran.
Baca juga: Ratusan Orang Diduga Jadi Korban Tipu-Tipu Travel Wisata, Polisi Turun Tangan
Pasar ini telah lama menarik perhatian dunia dan kerap menjadi sorotan media internasional, dikenal sebagai salah satu pasar paling ekstrem di Asia Tenggara.
Bukan hanya karena jenis dagangan yang tak lazim, tetapi juga karena perdebatan panjang soal budaya, etika, dan keamanan pangan yang menyertainya.
Bukan tanpa alasan—berbagai jenis daging hewan non-konvensional tersedia di lapak-lapak terbuka: dari kelelawar, tikus hutan, ular piton, anjing, hingga biawak.
Bahkan BBC Travel menobatkannya sebagai destinasi kuliner yang “gory” alias berdarah, namun juga menggambarkan warisan budaya yang otentik dan bertahan di tengah arus modernisasi.
Baca juga: Anti Ribet! Ini 4 Mal di Jakarta yang Terhubung Langsung dengan Transportasi Umum
Bagi sebagian orang, langkah pertama memasuki area daging di pasar ini sudah cukup membuat napas tercekat.
Bau asap yang menyengat bercampur aroma rempah menjadi latar suasana khas.
Daging-daging tersebut diasapi atau dibakar secara utuh, hingga kulitnya menghitam legam—menjadi penanda khas dari proses pemasakan awal yang dipercaya mampu mengawetkan dan menambah cita rasa sebelum akhirnya dijual di pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC