Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 01 AGUSTUS 2022 • 16:30 WIB

Uniknya ARMA, 'Museum Hidup' di Kampung Wisata Ubud-Bali, Ada Meditasi Alamnya!

Uniknya ARMA, Museum Hidup di Kampung Wisata Ubud-Bali, Ada Meditasi Alamnya!The Agung Rai Museum of Art (Instagram/mastermindkbeijing/msdenisovas)

ARMA (The Agung Rai Museum of Art) menjadi salah satu museum yang wajib kamu kunjungi saat berlibur ke Ubud, Bali.

Museum ini sangat unik karena memamerkan berbagai karya seni dengan sentuhan alam yang tampak nyata dan seolah-olah hidup.

Saat menginjakkan kaki di museum yang berada di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali ini, wisatawan akan disambut gemericik suara air, hijaunya pepohonan serta warna-warni bunga.

Setelahnya wisatawan bisa puas menyaksikan 400 koleksi lukisan Bali dari masa ke masa.

Selain itu, ada juga tempat pelestarian tanaman pengobatan tradisional (taru pramana) dan tumbuhan untuk upakara (sesajen).

The Agung Rai Museum of Art (Instagram/msdenisovas)

Di lahan seluas 7,5 hektare itu, ada pula panggung terbuka dikelilingi pohon-pohon enau yang menjulang tinggi dan pohon beringin besar yang semakin membuat teduh suasana.

Istimewanya lagi, wisatawan juga dapat menikmati suguhan para petani dengan aktivitasnya di areal persawahan sekaligus bisa ikut berbaur bersama mereka untuk menanam dan memanen padi.

"Di lingkungan museum ini, kita juga bisa melakukan kegiatan meditasi alam, yang kalau dijelaskan bisa menghabiskan waktu berhari-hari," kata Anak Agung Gde Rai, sang pemilik dan pendiri ARMA, seperti yang dikutip dari ANTARA, Senin (1/8/2022).

Adapun bagi Agung Rai, museum tak semata-mata menunjukkan barang-barang kuno dan hal-hal yang bernuansa tempo dulu, namun harus mampu memikat setiap generasi yang berkunjung.

Sehingga dia menawarkan konsep museum terintegrasi seperti ARMA yang tampak ‘hidup’.

The Agung Rai Museum of Art (Instagram/msdenisovas)

Selain didukung lingkungan yang begitu asri dengan rimbunnya pepohonan, wisatawan juga dapat melihat berbagai kegiatan pelestarian budaya.

Contohnya kegiatan latihan menari dan menabuh tanpa dipungut biaya yang diikuti oleh anak-anak di sekitar museum.

Ketika sudah mahir, mereka pun berkesempatan untuk tampil pentas dalam pertunjukan seni yang digelar pada hari-hari tertentu di panggung terbuka ARMA.

Tak hanya itu, para pelancong juga dapat melihat praktik para pelukis yang sedang melukis, maupun pemahat yang asyik membuat ukiran.

Yang tidak kalah menarik juga, ada sejumlah kelas pelatihan yang dapat diikuti para pelancong ketika berwisata ke museum yang berlokasi di Jalan Raya Pengosekan, Ubud, Kabupaten Gianyar itu.

The Agung Rai Museum of Art (Instagram/msdenisovas)

Mulai dari berlatih gamelan Bali, membuat ukiran kayu, melukis, menari Bali, memasak kuliner Bali, membuat kerajinan perak, melukis telur, kelas yoga, membuat sesajen/sarana persembahan dan sebagainya.

Setiap akhir pekan maupun hari Purnama dan Tilem juga disuguhkan kesenian Cak yang dibuat menyatu dengan alam.

Agung Rai menuturkan, museum bukanlah bangunan yang diperuntukkan begitu saja sebagai ajang bisnis. Melainkan bangunan yang menyatu dengan alam, pedesaan dan masyarakat, the living museum.

Baca juga: Bali Ternyata Ada Pantai Rahasia, Enggak Terlalu Panas dan Bisa Pijat Murah!

Sehingga yang dipentaskan di ARMA sangat menarik, apalagi disaksikan di panggung terbuka di bawah sinar bulan purnama.

"Rugi jika berwisata ke Bali tanpa berkunjung ke museum ini," kata anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika saat berkunjung ke ARMA belum lama ini.

Dia yang juga mantan Gubernur Bali itu mengaku bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam menikmati karya lukisan dari sang maestro yang menjadi koleksi ARMA dan menikmati asrinya tanaman di seputaran museum.

Lukisan maestro

The Agung Rai Museum of Art (Instagram/mastermindkbeijin)

Agung Rai Museum of Art (ARMA) merupakan salah satu museum seni rupa di Bali yang menyimpan berbagai koleksi lukisan yang berasal dari pelukis-pelukis ternama, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Museum ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro pada 9 Juni 1996.

Lukisan yang dipamerkan antara lain lukisan Kamasan klasik yang dibuat di atas kulit kayu, mahakarya para seniman Batuan dari tahun 1930-an hingga 1940-an.

Ada pula lukisan-lukisan monumental dan karya maestro lukis diantaranya karya Affandi, Raden Saleh, Walter Spies, Rudolf Bonnet, Arie Smith, I Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Buat, Anak Agung Gede Sobrat, I Gusti Deblog, Willem Gerald Hofker, Adrien Le Mayeur De Merpres dan sebagainya.

Untuk lukisan karya maestro selalu terpajang dan tetap dipertahankan tanpa penggantian berkala karena wisatawan mancanegara sengaja berkunjung untuk melihat lukisan tersebut.

 

 

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Uniknya ARMA, 'Museum Hidup' di Kampung Wisata Ubud-Bali, Ada Meditasi Alamnya!

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!