INDOZONE.ID - Setelah sukses menyelenggarakan Bajak Dapur MBG (Masak Bungah Guyub) sesi 2 pada 26 April 2026 pukul 13.00 WIB, Museum Nyah Lasem kembali melanjutkan program pengenalan kuliner tradisional melalui sesi 3. Pada sesi sebelumnya, peserta memasak rangin bakar dan wedang gaul, dua hidangan khas Rembang yang memberikan pengalaman baru bagi para peserta. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Para peserta saling membantu, berbagi tugas selama proses memasak, dan bertukar pengalaman mengenai makanan tradisional yang pernah mereka kenal. Antusiasme peserta pada sesi 2 menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki daya tarik untuk dipelajari dan dihidupkan kembali. Berbeda dengan sesi sebelumnya yang berfokus pada pembuatan makanan ringan dan minuman tradisional, pada sesi 3 peserta diajak untuk memasak hidangan yang lebih sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Rembang.
Program Bajak Dapur MBG (Masak Bungah Guyub) sesi 3 diselenggarakan pada hari Minggu, 7 Juni 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini mengajak peserta untuk mempelajari sekaligus menghidupkan kembali resep-resep kuliner tradisional yang terdokumentasi dalam buku “Mustika Rasa”. Buku tersebut merupakan kumpulan resep masakan Nusantara yang disusun atas prakarsa Presiden Soekarno pada tahun 1960-an dan memuat lebih dari 1.600 resep tradisional dari berbagai daerah di Nusantara. Pada sesi kali ini, peserta memasak sayur asam dan bothok peda, dua hidangan yang dikenal dalam kuliner masyarakat Rembang. Kegiatan berlangsung dengan lancar meskipun Kepala Program Bajak Dapur, Pungki Meiliyana, tidak dapat hadir karena memiliki keperluan lain. Seluruh peserta tetap dapat mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, saling membantu selama proses memasak, dan menciptakan suasana yang hangat serta menyenangkan. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Agik Ns selaku pengelola Museum Nyah Lasem. Sebanyak tujuh peserta perempuan turut berpartisipasi dalam sesi memasak bersama tersebut.
Baca juga: Museum Nyah Lasem Ajak Generasi Muda Masak Rangin Bakar dan Wedang Gaul dari Arsip
Salah satu menu yang dipraktikkan adalah bothok peda khas Rembang yang terdapat dalam buku Mustika Rasa halaman 417–418. Bahan utama yang digunakan terdiri atas lima ekor ikan peda, daun pisang, dan satu butir kelapa agak muda yang diparut. Bumbu yang digunakan meliputi bawang putih, cabai hijau ½ ons, 10 belimbing wuluh, seperempat ruas jari kencur, lima lembar daun salam, dan dua lembar daun jeruk purut. Proses pembuatannya diawali dengan membersihkan ikan dan membuang bagian kepala. Kelapa diparut, sementara belimbing wuluh, cabai, dan daun jeruk diiris halus. Bumbu kemudian dihaluskan dan dicampur dengan kelapa parut. Daun pisang dipanaskan terlebih dahulu agar lebih lentur dan tidak mudah sobek saat digunakan. Setelah itu, ikan dibalut dengan campuran bumbu, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang. Setiap bungkus diberi daun salam. Dalam resep asli disebutkan bahwa bothok dapat dipanggang atau dikukus, namun pada praktik kali ini seluruh bothok dimasak dengan cara dikukus. Resep juga menyebutkan bahwa apabila menggunakan mangga muda, penggunaan belimbing wuluh dan kelapa parut tidak diperlukan.
Menu berikutnya adalah sayur asam. Dalam praktiknya, beberapa bahan disesuaikan dengan ketersediaan bahan dan jumlah peserta. Sayuran yang digunakan antara lain 2–3 buah terong, kacang koro, dua jagung manis, 1–2 ikat kacang panjang, dan dua buah labu siam. Beberapa bahan yang tercantum dalam resep asli, seperti daun melinjo, kacang tanah, kemiri, dan lengkuas, tidak digunakan dalam proses memasak kali ini. Bumbu yang digunakan terdiri atas bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, asam jawa, satu sendok garam, ½ sendok teh terasi, dan daun salam.
Proses memasak sayur asam dilakukan dengan mendidihkan air terlebih dahulu. Bumbu yang dihaluskan kemudian dimasukkan ke dalam air yang mendidih bersama daun salam dan asam jawa. Setelah itu, sayuran yang telah dibersihkan dan dipotong dimasukkan ke dalam rebusan hingga matang dan bumbu meresap. Setelah matang, sayur asam siap diangkat dan disajikan untuk dinikmati bersama. Agik Ns selaku pengelola Museum Nyah Lasem mencoba mencicipi hasil masakan tersebut dan memberikan tanggapan bahwa rasa sayur asam sudah cukup enak. Namun, menurutnya cita rasa akan menjadi lebih enak apabila ditambahkan kemiri yang telah disangrai. Salah satu peserta juga memberikan kesan terhadap bothok peda yang telah dibuat. Menurutnya, hidangan tersebut terasa lebih nikmat ketika disajikan dalam keadaan hangat. Rasa asin dari ikan peda berpadu dengan gurihnya kelapa parut dan bumbu rempah sehingga menghasilkan cita rasa yang khas dan lezat.
Baca juga: Museum Marsinah Dinilai Perkuat Desa Wisata Berbasis Sejarah dan Budaya
Melalui kegiatan ini, Museum Nyah Lasem mengajak masyarakat untuk memahami bahwa kuliner merupakan bagian penting dari warisan budaya yang perlu dilestarikan. Program Bajak Dapur diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk umum. Bagi masyarakat yang belum sempat mengikuti kegiatan kali ini, Museum Nyah Lasem mengundang untuk berpartisipasi dalam sesi berikutnya dan bersama-sama merawat tradisi melalui kuliner Nusantara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan