INDOZONE.ID - Bagi kebanyakan masyarakat di Jawa atau Sumatera, teman setia makan gorengan biasanya adalah cabai rawit hijau atau bumbu kacang.
Namun, cobalah melipir ke Manado, Buton, Makassar, atau Ambon. Anda akan menemukan pemandangan berbeda.
Di beberapa daerah tersebut pisang goreng, bakwan, hingga ubi goreng disandingkan dengan sambal ulek yang pedas dan segar.
Tentu muncul pertanyaan bagi orang di luar daerah tersebut, mengapa masyarakat Sulawesi dan Maluku memiliki kebiasaan unik ini?
Ternyata alasannya bukan sekadar soal selera, tapi ada faktor sejarah dan kearifan lokal di baliknya.
1. Warisan Budaya "Pedas" yang Mendarah Daging
Sulawesi dan Maluku, terutama wilayah Utara, dikenal sebagai daerah dengan konsumsi cabai tertinggi di Indonesia.
Jika dikaji dalam studi komunikasi dan budaya, makan bukan sekadar aktivitas biologis (pemenuhan rasa lapar), melainkan sebuah praktik simbolik yang menegaskan identitas dan relasi sosial.
Dimana, masyarakat di wilayah ini memandang sambal bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen utama dalam hidangan.
Baca juga: Mengenal 7 Rumah Adat Sulawesi Selatan yang Memiliki Nilai Filosofis yang Tinggi
Di Manado, misalnya, Sambal Roa atau Sambal Bakasang adalah pendamping wajib untuk Pisang Goroho. Bagi mereka, rasa manis-gurih dari gorengan terasa "sepi" tanpa sengatan rasa pedas yang kuat.
2. Keseimbangan Rasa
Secara gastronomi, kombinasi ini menciptakan profil rasa yang seimbang. Gorengan yang memiliki tekstur renyah, berminyak, dan cenderung gurih/manis dipadukan dengan sambal.
Tentunya memberikan sensasi asam, manis dan pedas yang berfungsi sebagai palate cleanser.
Asam dalam sambal membantu menetralkan rasa "enek" akibat minyak berlebih pada gorengan. Hal inilah yang membuat kombinasi ini sangat adiktif.
3. Pengaruh Geografis dan Bahan Baku
Dalam sebuah kajian disebutkan bahwa ketersediaan bahan baku sangat mempengaruhi pola makan.
Baca juga: Intip Keunikan Pulau Bair di Maluku Utara yang Mirip Raja Ampat, Yuk Masukin ke Itinerary!
Sulawesi dan Maluku kaya akan rempah dan hasil laut. Penggunaan ikan dalam sambal (seperti ikan roa atau cakalang) memberikan dimensi rasa umami yang tidak ditemukan pada cabai rawit biasa.
4. Pisang Goreng Bukan Sekadar Camilan Manis
Di wilayah Indonesia Timur, pisang yang digunakan untuk gorengan seringkali adalah jenis pisang yang belum terlalu matang (mengkal), seperti Pisang Goroho atau Pisang Kepok.
Pisang ini memiliki tekstur seperti kentang dan rasa yang tidak terlalu manis, sehingga secara alami sangat cocok dicocol ke sambal, mirip dengan cara kita memakan kentang goreng dengan saus sambal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal