Bubur pedas Melayu Langkat. (Z Creators/Muhammad Hijrah)
Ada makanan tradisi warga Melayu Langkat setiap kali bulan suci Ramadan, yakni bubur pedas.
Rasanya kurang afdol jika tidak menikmati bubur pedas saat buka puasa di Tanah Melayu.
Tradisi makan bubur pedas tidak pernah ditingalkan masyarakat Melayu dan juga kaum kerabat Kesultanan Langkat.
Salah satunya Ira, warga Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Setiap harinya, dia memasak bubur pedas sebagai menu berbuka puasa keluarga. Bubur pedas wajib terhidang di meja makan sebagai menu andalan mereka.
Baca Juga: Muncul Sekte Makan Bubur Instan Digoreng Dulu Pakai Telur, Netizen: Tambah Kol Jadi Bakwan
Ira memiliki bakat memasak bubur pedas yang ia peroleh secara turun-temurun dari keluarganya. Hal itu pun membuatnya kebanjiran pesanan bubur pedas saat bulan Ramadan.
Bubur pedas ini memiliki 44 macam rempah dan bahan yang digunakan untuk memasaknya sehingga menciptakan cita rasa yang khas.
Adapun cara memasak bubur pedas, pertama-tama, campurkan semua rempah dengan beras. Setelah itu, beras dimasak sampai menjadi bubur, lalu dimasukan umbi-umbian seperti keladi, wortel, pisang, ubi dan lainnya hingga matang.
Biasanya, warga Melayu menyantap bubur pedas bersama dengan anyang pakis, yang membuat cita rasa bubur semakin nikmat dan lezat.
Di bulan puasa bubur pedas, sangat mudah ditemui di jajakan di penjual takjil atau pembuat khusus bubur pedas di daerah Kabupaten Langkat dan sekitarnya.
"Bubur pedas ini sebagai makanan tradisi warga Melayu Langkat sejak zaman kesultan. Bubur ini dimakan oleh para sultan dan kaum kerabatnya, "ucap Ira, salah satu warga pembuat bubur pedas.
Baca Juga: Pertama Kali Masak Nasi Merah di Panci, Wanita Ini Kaget Berasnya Tenggelam Jadi Bubur
"Bubur ini dipercaya sangat banyak khasiatnya bagi kesehatan karena ada 44 macam rempah yang terkandung di dalamnya, membuat badan hangat," sambungnya.
Sementara itu, cucu Sultan Langkat Tengku Oni, mengaku masih setia menyantap bubur pedas setiap bulan Ramadan.
"Setiap kali bulan Ramadan tradisi makan bubut pedas sudah menjadi kebesaran kami sebagai juriat kesultanan yang masih di pertahankan sampai saat ini," ungkapnya.
"Kami berharap agar tradisi bubur pedas jangan sampai tergerus zaman, dan harus dipertahankan sampai generasi ke depannya sebagai kearifan lokal," harap Tengku Oni.
Artikel Menarik Lainnya:
Mencicipi Steak Vegetarian Berbahan Dasar Tempe dan Jamur di Warung Piwah Jogjakarta
Jadi Gorengan Primadona di Parepare, Jalangkote Diburu Warga Buat Takjil Buka Puasa
Apericube: Keju Kubus untuk Hidangan Pembuka yang Gurih dari Prancis
Masjid Raya Aceh Sajikan Bubur Kanjie Rumbi untuk Berbuka Puasa
Bubur Pedas Masjid Raya Dibagikan Gratis, Tradisi Khas Berbuka Puasa Ramadan di Medan
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini .
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: