Ilustrasi penjual gorengan dengan cocolan sambal roa. (AI Generated)
INDOZONE.ID - Bagi kebanyakan masyarakat di Jawa atau Sumatera, teman setia makan gorengan biasanya adalah cabai rawit hijau atau bumbu kacang.
Namun, cobalah melipir ke Manado, Buton, Makassar, atau Ambon. Anda akan menemukan pemandangan berbeda.
Di beberapa daerah tersebut pisang goreng, bakwan, hingga ubi goreng disandingkan dengan sambal ulek yang pedas dan segar.
Tentu muncul pertanyaan bagi orang di luar daerah tersebut, mengapa masyarakat Sulawesi dan Maluku memiliki kebiasaan unik ini?
Ternyata alasannya bukan sekadar soal selera, tapi ada faktor sejarah dan kearifan lokal di baliknya.
Sulawesi dan Maluku, terutama wilayah Utara, dikenal sebagai daerah dengan konsumsi cabai tertinggi di Indonesia.
Jika dikaji dalam studi komunikasi dan budaya, makan bukan sekadar aktivitas biologis (pemenuhan rasa lapar), melainkan sebuah praktik simbolik yang menegaskan identitas dan relasi sosial.
Dimana, masyarakat di wilayah ini memandang sambal bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen utama dalam hidangan.
Baca juga: Mengenal 7 Rumah Adat Sulawesi Selatan yang Memiliki Nilai Filosofis yang Tinggi
Di Manado, misalnya, Sambal Roa atau Sambal Bakasang adalah pendamping wajib untuk Pisang Goroho. Bagi mereka, rasa manis-gurih dari gorengan terasa "sepi" tanpa sengatan rasa pedas yang kuat.
Secara gastronomi, kombinasi ini menciptakan profil rasa yang seimbang. Gorengan yang memiliki tekstur renyah, berminyak, dan cenderung gurih/manis dipadukan dengan sambal.
Tentunya memberikan sensasi asam, manis dan pedas yang berfungsi sebagai palate cleanser.
Asam dalam sambal membantu menetralkan rasa "enek" akibat minyak berlebih pada gorengan. Hal inilah yang membuat kombinasi ini sangat adiktif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal