Sajian olahan daging kelinci di Bojonegoro
INDOZONE.ID - Sate kelinci mungkin masih terdengar asing di lidah sebagian orang. Namun di tangan Latifah, warga Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, daging kelinci menjelma menjadi aneka hidangan menggugah selera.
Melalui Kafe Gemah Ripah yang berdiri setahun lalu di tepi persawahan, ia menyajikan sate, steak, rica-rica, gulai hingga penyetan kelinci.
"Kami ingin mengenalkan bahwa daging yang bisa dikonsumsi bukan hanya sapi, ayam, atau kambing. Kelinci juga kaya manfaat,” ungkap Latifah.
Harga menu tergolong terjangkau, berkisar Rp15.000–Rp22.000. Sementara minuma, mulai milkshake, es krim float, jus buah, hingga lemon tea, dibanderol Rp3.000–Rp10.000.
Baca juga: Deretan Acara Seru HUT Jakarta ke-498: Dari Festival Budaya hingga Khitanan Massal
Dari deretan hidangan, steak dan sate kelinci menjadi favorit pengunjung. Kuncinya, terletak pada bumbu rempah dan sambal racikan keluarga.
Proses memasak daging kelinci memerlukan teknik khusus. Kesegaran daging wajib terjaga, tulang tidak dipisahkan, dan sebelum dimasak daging direndam air garam agar rasa gurih alami lebih menonjol.
Hasilnya, tekstur daging tetap lembut, nyaris menyerupai ayam, sebagaimana diakui Audita, salah satu pelanggan.
"Selain lezat, daging kelinci dipercaya menyehatkan. Kandungan proteinnya tinggi, rendah kolesterol, dan disebut-sebut membantu mengatasi asma, menjaga metabolisme, hingga baik bagi pertumbuhan anak dan kesehatan ibu hamil," ucapnya.
Keunikan menu ditambah suasana semi-outdoor bernuansa sawah lengkap dengan bangku bambu dan lampu temaram membuat Gemah Ripah tak pernah sepi, terlebih saat akhir pekan.
Kafe buka setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB sehingga cocok dijadikan tempat makan siang maupun nongkrong malam.
Baca juga: Resep Soto Babat Sapi yang Enak dan Gurih, Pastinya Mudah Dibuat!
Dalam kondisi ramai, omzet kafe ini tembus Rp1,5 juta per hari; saat lengang tetap bertahan di kisaran Rp750 ribu.
Jika rata-rata pendapatan harian Rp1 juta saja, Latifah mengantongi sekitar Rp30 juta per bulan. Tentu angka fantastis untuk usaha kuliner desa.
Pemerintah desa (Pemdes) mendukung, mempromosikan destinasi kuliner ini melalui media sosial resmi dan agenda wisata lokal.
"Harapan kami, masyarakat makin terbuka mencoba daging kelinci. Semakin banyak yang suka, peternak kelinci pun ikut terangkat,” ujar ibu anak dua asal Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung