INDOZONE.ID - Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), merupakan desa wisata yang keindahannya bisa mengundang wisatawan mancanegara.
Masyarakat yang tinggal di Desa Kemiren Banyuwangi, disebut Osing Kemiren. Topografi desa seluas 180 ha ini adalah dataran dengan perbukitan.
Menilik topografi desa tersebut, masyarakat setempat memiliki mata pencaharian utama pertanian. Meski begitu, pariwisata juga menjadi salah pemasukan bagi Desa Kemiren Banyuwangi.
Untuk memahami daya tarik dari Desa Kemiren Banyuwangi, yuk simak penjelasan di bawah ini!
Baca juga: Banyuwangi Jadi Kota Tersibuk Angkutan Kereta Api saat Nataru 2025
Sejarah Desa Kemiren Banyuwangi
Desa Kemiren dulunya merupakan lahan yang dipenuhi pohon kemiri dan durian. Itu menyebabkan desa ini dinamakan seperti sekarang.
Desa Kemiren awalnya berisikan orang-orang yang mengasingkan dari Kerajaan Majapahit setelah keruntuhannya pada 1478 M.
Orang-orang ini mendirikan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi. Budaya Kerajaan Blambangan bercorak Hindu-Budha, seperti Kerajaan Majapahit.
Kerajaan Blambangan berjaya selama 2 abad sebelum jatuh ke Kerajaan Mataram Islam pada 1743 M.
Lalu, pada 1830-an ketika masa penjajahan Belanda, Desa Kemiren pun lahir. Hamparan sawah dan hutan, yang mayoritas pohon kemiri dan durian, jadi penampakan pertama dari desa ini.
Sawah dan hutan itu dimiliki penduduk Desa Cungking yang diyakini jadi cikal-bakal masyarakat Osing di Banyuwangi. Penduduk Desa Cungking bersembunyi di sawah dan hutan tersebut, untuk menghindari kejaran Belanda.
Namun, mereka enggan kembali sehingga hutan pun dibabat untuk membuka lahan yang bisa dijadikan tempat tinggal.
Meski begitu, hingga kini, Desa Cungking tetap ada, berjarak 5 km dari Desa Kemiren.
Pada masa kepemimpinan Gubernur Jatim, Basofi Sudirman, Desa Kemiren ditetapkan sebagai kawasan wisata sehingga menjadi desa adat. Komunitas Osing adalah penduduk Desa Kemiren sekarang.
Desa Kemiren menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, tapi tetap mengikuti perkembangan zaman. Harmonisasi itu jadi keunikan utama dari Desa Kemiren.
Daya Tarik Desa Kemiren
Seperti tempat wisata pada umumnya, makanan tradisional pun jadi salah satu keunikan dari Desa Kemiren.
Beberapa makanan tradisional Desa Kemiren yang wajib dicoba jika berkunjung, adalah pecel pitik, uyah asem, nasi tempong, dan jangan kelor.
Selain makanan, kamu dapat menikmati keindahan seni tari dari Desa Kemiren, seperti tari jejer gandrung, tari jaran goyang, tari paju gandrung, dan tari barong Kemiren.
Baca juga: Cerita Wisatawan Jember yang Ketagihan dengan Pesona Wisata Banyuwangi
Banyak tarian yang bisa dinikmati keindahannya, karena Desa Kemiren memiliki 18 sanggar. Setiap sanggar menghidupkan kebudayaan adat Suku Osing.
Lalu, Desa Kemiren juga menawarkan keindahan budaya lainnya, yang wajib kamu jelajahi. Supaya tidak terasa dikejar oleh waktu saat menikmati Desa Kemiren, kamu bisa menginap di sana.
Tenang, Desa Kemiren memiliki 40 homestay yang mayoritas merupakan rumah tinggal warga setempat, tapi disewakan saat ada turis. Bahkan, beberapa di antaranya ada yang berbentuk hunian dengan kamar-kamar untuk wisatawan.
Desa Kemiren pun memiliki 22 usaha kecil dan menengah. Usaha-usaha tersebut bergerak di bidang pangan dan sandang.
Kamu harus tahu, rerata 4.000 orang mengunjungi Desa Kemiren setiap tahunnya. Menurut Ketua Pokdarwis Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Moh. Edy Saputro, wisatawan ingin mengetahui budaya Desa Kemiren.
"Sebelum pandemi, kunjungan di Desa Kemiren sempat menyentuh angka 18 ribu orang, itu terjadi pada 2019. Namun, setelah pandemi, kami berupaya menyuguhkan kebudayaan dalam pariwisata sebaik mungkin untuk mengulang kembali capaian waktu itu," kata Edy, dikutip dari Antara, Rabu (4/2/2026).
Desa Wisata Adat Osing Kemiren tidak hanya berdampak secara ekonomi, perkembangan desa wisata itu juga meraih berbagai penghargaan prestisius, di antaranya Internasional The 5th ASEAN Homestay Award dalam ajang Asean Tourism Award (ATA) 2025, dan Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia (The Best Tourism Villages Upgrade Programme) dari United Nations Tourism, Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemiren, BRWA, Antara