Rabu, 01 OKTOBER 2025 • 19:00 WIB

Kisah Kelam Sejarah Lubang Buaya: Mengintip Sumur Tua yang Menyimpan Tragedi

Author

Museum lubang buaya. (Wikipedia)

INDOZONE.ID - Nama Lubang Buaya sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, terutama ketika membicarakan sejarah kelam peristiwa G30S tahun 1965. Kawasan ini bukan hanya sekadar lokasi, melainkan simbol tragedi yang meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan bangsa. 

Hingga kini, sumur tua di Lubang Buaya masih berdiri sebagai saksi bisu, menyimpan kisah yang penuh darah dan air mata.

Asal-usul Nama Lubang Buaya

Sebelum dikenal sebagai lokasi bersejarah, wilayah ini hanyalah kawasan rawa dan hutan belukar di daerah Jakarta Timur. Menurut cerita masyarakat sekitar, dulunya tempat ini dihuni banyak buaya rawa. Dari situlah nama “Lubang Buaya” muncul, merujuk pada kawasan yang dianggap angker dan jarang dikunjungi.

Baca juga: Sejarah Lubang Buaya, Salah Satu Saksi Bisu Tragedi Kelam G30S/PKI

Lubang Buaya dalam Peristiwa G30S 1965

Pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, enam jenderal TNI AD dan satu perwira muda menjadi korban penculikan. Mereka kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya. Di sinilah tubuh mereka disiksa sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua sedalam sekitar 12 meter.

Sumur itulah yang kini dikenal sebagai Sumur Lubang Buaya. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu babak paling tragis dalam sejarah politik Indonesia.

Sumur Tua sang Saksi Bisu

Jika berkunjung ke lokasi sekarang, sumur tua itu masih dijaga dan dijadikan bagian dari kompleks Monumen Pancasila Sakti. Sumur yang semula sederhana, kini dipagari dan dilindungi agar tetap terjaga keasliannya. 

Meski hanya berupa lubang tanah, keberadaannya menyimpan cerita panjang tentang konflik ideologi yang pernah membelah bangsa. Bagi sebagian orang, menatap ke dalam sumur tua Lubang Buaya seperti mengintip kembali potongan sejarah yang penuh luka.

Baca juga: Pernah Jadi Saksi Bisu Keganasan PKI, Ternyata Lubang Buaya Dulunya 'Rumah' Siluman

Dari Tragedi ke Monumen Nasional

Pada tahun 1967, pemerintah membangun kompleks Monumen Pancasila Sakti di kawasan ini. Tujuannya adalah untuk mengenang para pahlawan revolusi sekaligus mengingatkan generasi muda akan pentingnya menjaga ideologi Pancasila. 

Di area ini, selain sumur tua, pengunjung juga bisa melihat Museum Lubang Buaya yang menyimpan diorama, benda-benda bersejarah, hingga foto-foto dokumentasi peristiwa G30S.

Potret Lubang Buaya Sekarang

Kini, Lubang Buaya tidak lagi sekadar dikenal karena kisah angkernya, melainkan sebagai situs sejarah nasional. Setiap tanggal 1 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dan kawasan ini sering dijadikan tempat upacara.

Meskipun tragedi itu telah berlalu puluhan tahun, sumur tua Lubang Buaya tetap mengingatkan kita bahwa sejarah tidak boleh dilupakan. Dari sebuah lubang sederhana, lahir kisah besar yang membentuk arah perjalanan bangsa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU