INDOZONE.ID - Umumnya, setiap negara di dunia ini, akan selalu berlomba untuk menjadikan negara mereka yang terbaik di dunia ini. Nah, salah satu caranya, yaitu mengembangkan sektor pariwisata di negara mereka. Termasuk juga Indonesia, yang akhir-akhir ini, rasa-rasanya semakin banyak tempat wisata yang diviralkan oleh banyak orang di berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke ini.
Nah, seperti pada umumnya, sebuah hal akan selalu ada konsekuensinya. Begitu juga tentang pariwisata, di mana, ada sebuah “hantu“ yang akan selalu mengintai dalam bisnis pariwisata, terlebih lagi di tempat wisata yang sudah terkenal. Tentu, hantu tersebut bukanlah genderuwo, kuntilanak, atau drakula ya guys, melainkan sebuah hantu yang bernama “Overtourism“.
Jadi bagi kamu yang mungkin belum tahu, overtourism adalah sebuah situasi ketika jumlah pengunjung yang mendatangi sebuah tempat wisata melebihi jumlah kapasitas tempat wisata tersebut. Overtourism seringnya terjadi di tempat wisata yang memang sudah sangat populer dan ikonik, seperi contoh Paris, Venesia, Barcelona, dan tentunya, apalagi kalau bukan Bali.
Nah, overtourism ini dapat menyebabkan dampak negatif, diantaranya:
1. Mengganggu kehidupan masyarakat lokal
Kehidupan masyarakat lokal tentu akan terganggu akibat dari overtourism. Penduduk lokal di destinasi wisata populer seringkali merasa kehilangan kehidupan privasinya. Para warlok juga merasa kesulitan melakukan aktivitas sehar-hari seperti berbelanja, menggunakan transportasi umum, atau hanya sekedar berjalan kaki di sekitar pekarangan mereka sendiri, karena membludaknya jumlah wisatawan.
Overtourism juga berdampak pada harga properti, di mana harga properti akan meningkat akibat meningkatnya permintaan. Tentu hal ini sangatlah memberatkan para warlok.
2. Masalah infrastruktur
Beberapa masalah infrastruktur yang dapat terjadi akibat overtourim antara lain meningaktnya kebutuhan energi secara tajam, jalanan sempit yang menjadi macet, serta rusaknya sistem pembuangan sampah dan air bersih.
3. Kerusakan lingkungan
Nah, yang paling terpampang nyata dari overtourism, adalah terjadinya kerusakan lingkungan. Jumlah wisatawan yang membludak tak terkendali sering menyebabkan degradasi ekosistem alam, yang dapat terjadi di manapun, baik pegunungan, taman nasional, maupun pantai.
Selain 3 dampak diatas, dampak negatif lain yang dapat terjadi yaitu terjadinya pergeseran sosial budaya, serta dapat menurunkan kualitas pengalaman para wisatawan sendiri.
Baca juga: Gaspol Lagi! Jember Hidupkan Wisata Trail Lewat Jelajah Lereng Argopuro
Baca juga: Sinergi Koperasi Merah Putih dan Desa Wisata Bangkitkan Ekonomi Rakyat
Tips menghindari overtourism
Tentunya, kamu ingin kan menjadi wisatawan yang bertanggung jawab dan beretika, serta tidak ingin menjadi bagian dari hantu overtourism ini. Maka dari itu, beberapa hal yang dapat kamu lakukan antara lain:
1. Pilih waktu berwisata diluar musim puncak
Kamu tentu sudah bisa membayangkan betapa crowded-nya tempat wisata ketika musim puncak, yang tentunya dapat berkontribusi terjadinya overtourism. Maka dari itu, salah satu cara untuk menghindari hal tersebut yaitu pilihlah waktu liburan diluar musim puncak liburan. Karena dengan begini, kamu dapat mengurangi kerumunan dan dapat menikmati kegiatan wisata dengan lebih tenang, serta dapat lebih murah dibanding saat musim puncak.
2. Pilih destinasi yang kurang terkenal
Sejatinya, banyak tempat-tempat wisata indah yang sebenarnya masih tersembunyi dan belum banyak tersentuh. Nah, dengan mengunjungi tempat wisata tersebut, kamu tidak hanya mendapatkan pengalaman yang lebih waw, namun juga berkontribusi mengurangi tekanan pada destinasi wisata yang memang sudah populer.
Selain 2 tips diatas, tips lain yang juga dapat kamu lakukan yaitu mendukung ekowisata dan wisata berkelanjutan, di mana dapat kamu lakukan dengan cara mencari destinasi wisata yang menerapkan prinsip wisata berkelanjutan, yang diwujudkan dengan cara menjalin kerja sama yang baik antara wisatawan dan warlok untuk menjaga kelestarian budaya dan alam. Kemudian yang terakhir, yang tidak kalah pentingnya, yaitu menghargai budaya lokal tempat kamu berwisata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Traveloka.com