Monumen Pancasila, Boyolali. (Z Creators/Eksani)
INDOZONE.ID - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 menjadi salah satu bab paling kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Meski telah berlalu lebih dari setengah abad, kisah tragis tersebut masih terus dikenang — salah satunya melalui Monumen Pancasila Sakti yang berdiri megah di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Monumen ini bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol perlawanan terhadap upaya mengganti ideologi negara, Pancasila.
Di tempat inilah, sejarah mencatat ditemukannya jenazah para perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menjadi korban dalam tragedi tersebut.
Baca juga: Apakah ke Vatikan Butuh Visa? Kamu yang Mau Wisata Religi Wajib Tahu!
Mereka kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi atas jasa dan pengorbanannya.
Pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, sekelompok pasukan menculik sejumlah jenderal TNI AD dari kediaman masing-masing.
Peristiwa ini berlangsung cepat dan penuh kekerasan, meninggalkan duka mendalam bagi bangsa.
Para korban kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya dan dibunuh. Jenazah mereka dibuang ke dalam sebuah sumur tua yang kini dikenal sebagai “sumur maut”.
Peristiwa ini tidak hanya mengguncang stabilitas politik, tetapi juga memicu perubahan besar dalam arah sejarah Indonesia.
Baca juga: Monumen Bajra Sandhi, Destinasi Megah yang Jadi Simbol Perjuangan Heroik Rakyat Bali
Sebagai bentuk penghormatan dan pengingat, pemerintah Indonesia membangun Monumen Pancasila Sakti yang diresmikan pada tahun 1973.
Monumen ini berdiri tepat di lokasi bersejarah tersebut, menjadikannya salah satu situs penting dalam edukasi sejarah nasional.
Di bagian utama monumen, terdapat tujuh patung Pahlawan Revolusi dengan tinggi sekitar 17 meter.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesiakaya.com