Minggu, 14 JUNI 2026 • 11:15 WIB

Wamenpar Ni Luh Puspa: Cerita di Balik Kuliner Daerah Jadi Magnet Wisatawan

Author

Wamenpar Ni Luh Puspa. (Dewi Kania/Z Creators)

INDOZONE.ID - Wamenpar Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa industri kuliner Indonesia dan pelaku usaha bisa menjadi penggerak ekonomi. Dari situ, value bisa lebih ditingkatkan untuk mengenal lebih dalam tentang gastronomi Indonesia.

“Menurut kami ajang ini relate dengan program prioritas, salah satunya pariwisata berkualitas dengan wisata minat khusus yang bisa meningkatkan value of money, spending yang lebih banyak dan marine tourism, wellnes tourism dan gastrotourism. Kita ingin turis saat berwisata ke Indonesia untuk meraskaan gastronomi Indonesia,” ujar Ni Luh Puspa dalam acara Penganugerahan Grab Bintang 5 Awards di Kantor Kemenpar, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Ia senang ada banyak support yang telah diberikan, baik itu kunjungan wisatawan dan kuliner Indonesia. Banyak program yang telah berhasil dijalankan bersama Wonderful Indonesia.

Ni Luh juga menekankan bahwa kolaborasi ini menjadi penting dan semua pelaku usaha bisa naik kelas. Ia meminta agar masyarakat, pelaku usaha kuliner dan pariwisata, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat harus saling bersinergi. 

Baca juga: Membaca Sejarah di Atas Piring: Mengapa Pariwisata Gastronomi Lebih dari Sekadar Manjain Lidah!

Dalam kesempatan ini, Ni Luh memberikan langsung penghargaan kepada para pelaku kategori Wonderful Indonesia Favorite Flavor. Mereka adalah Pisang Madu Bu Nanik, Risol Spesial Gogo, Pisang Goreng Madu Bu Nanik, dan Warung Bu Kris.

“Kami memberikan apresiasi kepada pelaku kuliner di pariwisata prioritas di 10 destinasi, seperti Raja Ampat, Mandalika, Labuan Bajo, Bromo Tengger Semeru, Yogyakarta, Wakatobi, Belitung, juga Danau Toba,” ucap Ni Luh Puspa.

Ia percaya bahwa setiap destinasi prioritas punya cerita dan kekayaan gastronomi. Dalam gastronomi makanan bukan hanya sebuah rasa, tapi mengajak wisatawan untuk mengajak wisatawan untuk mengenal makanan di satu daerah.

Sebut saja Coto Makassar dan Pallu Bassa di Makassar, kedua kuliner ini punya cerita dan sejarah di balik kelezatannya. Dengan begitu, kata Ni Luh, kuliner ini punya nilai jual dan membuat wisatawan semakin tertarik untuk mencicipinya. 

“Saya harap pelaku kuliner bisa berinovasi dan berdaya saing serta jadi sarana meningkatkan gastronomi ke tingkat yang lebih tinggi,” bebernya.

Sebagai Star Chef yang hadir dalam acara, Pakar Kuliner William Wongso mengatakan, banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa kuliner Indonesia itu ragamnya nomor wahid di dunia. Jadi, jangan anggap remeh makanan lokal yang nikmatnya tak terkalahkan.

“Kita terbang dari Aceh ke Padang, lalu ke Toba beda lagi, dan gak usah dibantah dan kita perlu apresiasi terhadap keragaman budaya kita, kita menemukan rendang kering, creamy, dan lainnya,” kata pria yang akrab disapa Om Wil ini. 

Hal inilah yang  membuat ekonomi Indonesia tidak terpuruk. Bayangkan saat zaman Covid-19, kalau ibu-ibu tak jualan makanan online di rumah mungkin situasi beda, dan mereka bisa kirim makanan kemana sana, jadi tak usah ke restoran.

“Lalu 90 persen orang Indonesia sendiri maunya makanan Indonesia. Bakso enaknya ngalahin burger, dan generasi Instagram ini sebelum makan pasti foto dulu,” ucap Om Wil. 

Sementara itu, Chef Martin Praja melihat masih banyak tantangan yang kerap dihadapi para pelaku usaha dalam mempertahankan kualitas. Menurutnya, semua bisa diatasi dengan kerja sama tim yang baik.

“Pastinya kalau kita omongin standarisasinya, kalau bikin satu dua pax orang mudah. Tapi kalau 100 sampai ribuan pax per hari agar kualitas tetap stabil butuh tim yang solid kita ingin kuliner Indonesia lebih scale up lagi. Dngan acara ini bisa memacu para pelaku UMKM agar bs ada goals untuk meningkatian kuliner Indonesia,” ucap Chef Martin.

CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi sangat senang bisa mendukung pariwisata Indonesia naik kelas. Menurutnya, inisiatif ini menjadi semangat untuk Indonesia dan mendukung ekosistem lokal agar tunbuh secara berkelanjutan.

“Kami mengapresiasi para pelaku kuliner dan UMKM yang telah konsisten menghadirkan kualitas makanan, cita rasa, layanan dan pengalaman terbaik. Ini sejalan dengan upaya pariwisata melalui Wonderful Indonesia tentang budaya daerah dan daya tarik pariwisata,” ujar Neneng.

Wamenpar Ni Luh Puspa, William Wongso, Chef Martin Praja, dan Neneng Goenadi. (Dewi Kania/Z Creators)

Ia juga menyebut bahwa kuliner memiliki peran yang sangat penting. Kuliner bukan hanya tentang makanan tapi tentang cerita, budaya, dan identitas lokal yang jadi pengalaman wisatawan untuk mengenal Indonesia.

Momen ini menjadi bukti bahwa kuliner berkualitas tidak hanya hadir dari Jakarta, tapi datang dari beragam daerah. Dengan cita rasa beragam, ia berharap para pelaku kuliner lokal bersemangat untuk menjaga kualitas dan berkontribusi terhadap ekosistem kuliner Indonesia.

Menutup sambutan, Neneng berharap bahwa melalui ajang ini, bisa jadi ruang bagi industri kuliner dalam mendukung kuliner Indonesia agar semakin dikenal dan berdaya saing. Ia juga mengumumkan penerima kategori GrabFood Legends: Nusantara Edition, yakni Acien Pokpia, Warung Nasi Ibu Imas, Tip Top Restaurant.

Di sela acara, Perwakilan Tip Top Restaurant Christopher Reynard Kelana bercerita tentang cara mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran tren kuliner kekinian, termasuk dengan memanfaatkan penjualan online.

“Kami akui sudah lama dan cuma ada satu di Medan dan dan standarisasinya harus perfect. Snack zaman sekarang inovasinya banyak karena ikut selera konsumen dan kami punya heritage dari 1934 dan online sale lebih banyak," ujarnya.

Sebagai generasi muda yang meneruskan bisnis keluarga, ia berupaya menjaga cita rasa autentik dari menu andalan yang setiap hari disajikan kepada pencinta kuliner.

"Tapi kita gak boleh terlalu melenceng dan tidak kehilangan jati diri kita. Tentu ada buku kita simpan gak boleh dibuka-buka," katanya.

Adapun menu unggulan restoran legendaris ini adalah bistik lidah sapi dan es krim, yang resepnya tetap autentik dan telah dijaga selama 92 tahun. Meski banyak ekspektasi baru dari pelanggan, khususnya generasi muda, ia tetap mempertahankan cita rasa sesuai buku resep turun-temurun.

Baca juga: Wamenpar: Pengelolaan Sampah Jadi Kunci Jaga Daya Saing Pariwisata Bali

Untuk memperluas pasar, ia juga aktif menggandeng content creator, food vlogger, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi.

"Untuk ekspansi market kita gaet influencer, dan sosial media," tambahnya.

Sementara itu, Owner Pisang Madu Bu Nanik Nanik Soelistiowati turut membagikan kisah bagaimana usahanya mampu bertahan di tengah persaingan bisnis kuliner. Meski hanya menjual gorengan, setiap hari selalu sold out.

“Saya hanya tentang gorengan dan mempertahankan cita rasa Indonesia melalui pisang goreng madu, kita menciptakan gorengan, kita berinovasi jadi beda dengan yang lain sejak 2007 dan kita masih bisa bertahan," ujarnya.

Agar semakin banyak pelanggan setia, Nanik terus berinovasi dengan meluncurkan satu hingga dua menu baru setiap tahun. Usahanya kini berkembang menjadi salah satu pusat oleh-oleh yang menawarkan beragam produk, mulai dari pisang goreng, nanas goreng, ubi, cempedak, sukun, hingga gorengan asin seperti martabak granat, telur goreng, tahu goreng, dan lumpia Betawi.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas produk sebelum disajikan kepada pelanggan. Menurutnya, kerapihan dalam proses produksi serta pemilihan bahan baku terbaik menjadi kunci untuk mempertahankan cita rasa khas.

“Saya senang kerapihan dan menjaga bener bahan baku misal cempedak kita ambil dari hutan Kalimantan, pisang pun sangat selektif hanya pisang raja. Kita kerja sama dengan bandar pisang dari Lampung, Semarang, Sukabumi, Bogor, Sumedang,” ungkapnya.

Nanik menjelaskan bahwa penggunaan bahan baku berkualitas menjadi faktor utama yang menghasilkan cita rasa khas produknya. Ia juga terus menghadirkan inovasi, baik untuk produk manis maupun gurih.

“Dari bahan baku berkualitas ini, cita rasanya timbul dan cocok untuk dimakan diabetes, saya menciptakan inovasi manis dan asin, pisang raja sejenisnya kalau sudah tua manis sekali, kalau belum tua itu sepet pokoknya sampai kulitnya jelek baru bisa digoreng,” tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU