INDOZONE.ID - Kalau Yogyakarta mempunyai kue bakpia sebagai oleh-oleh khasnya, Klaten mempunyai kue apem yang saat ini bisa kita nikmati kapan saja.
Mendengar kata kue apem, bagi masyarakat Klaten dan sekitarnya, pasti dihubungkan dengan Tradisi Saparan yang berlangsung di Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.
Tradisi yang dikemas wisata budaya dengan menyebar ribuan kue apem ini, selalu mempunyai daya tarik luar biasa. Terbukti, puluhan ribu pengunjung dari berbagai kota di Indonesia, selalu memadati oro-oro (tanah lapang) Plampeyan, tempat berlangsungnya tradisi tersebut.
Kini, untuk menikmati lezatnya kue apem, warga tidak harus menunggu pas Tradisi Saparan. Kini penjual kue jadul tersebut sudah menjamur di wilayah Jatinom.
Satu di antaranya yang membuka kedai di dekat Simpang Tiga Jatinom, Jalan Raya arah ke Boyolali, yaitu Sri Ngatini (53 tahun).
Sri Ngatini mengaku baru dua tahun membuka lapak kue apem di depan rumahnya ini. Ia dibantu dua orang anaknya.
Dalam sehari, Sri mengaku bisa menghabiskan 5 kilogram tepung beras sebagai bahan baku. Ditambah tepung terigu untuk campuran, kelapa, gula, tape, dan lain-lain. Kalau akhir pekan bisa naik sampai 7 kilogram.
"Saya tidak berjualan sejak dulu, khawatir tidak laku. Karena di sini kan kue apem identik dengan Saparan. Lakunya pas Saparan saja, begitu pikir saya," kata Sri Ngatini, saat ditemui Z Creators Edelweis Ratushima, Minggu (18/6/2023) di kedainya.
Namun setelah ia nekad berjualan di luar bulan Safar, ternyata laku, akhirnya ia lanjutkan sampai sekarang.
Lokasinya yang strategis di pinggir jalan raya, membuat para pembeli singgah. Mereka banyak yang menikmati makan di tempat, selagi masih hangat.
Sri Ngatini menyediakan berbagai varian rasa. Ada rasa nangka, durian, cokelat, dan original. Perbiji, ia jual Rp1.500 atau satu bungkus berisi 10 biji seharga Rp15.000. Para pembeli suka yang satu pack isinya variasi rasa, lebih hemat.
Seperti yang dilakukan Anastasia Murniati, salah seorang pembeli. Ia bersama suaminya sering membeli kue tradisional ini. Sekedar untuk camilan atau oleh-oleh bila ada rekannya luar kota yang datang.
"Kuenya enak, empuk, manis dan gurihnya menyatu. Saya lebih suka yang rasa nangka," kata Anastasia.
Kue apem sangat melegenda di Jatinom, mempunyai sejarah tersendiri.
Menurut Plt Camat Jatinom, Agus Sunyata, jaman dahulu ada Ki Ageng Gribig tokoh ulama penyebar agama Islam di Jatinom, pulang naik haji membawa oleh-oleh kue dari Tanah Suci.
Sesampai di rumah, kue tersebut dibagikan kepada santri dan tetangganya, tidaklah mencukupi.
Beliau menyuruh istrinya agar membuat kue apem dan dibagikan kepada santri dan tetangganya. Kue tersebut diberi nama apem yang awal mulanya dari kata affum atau afwan yang artinya permintaan maaf.
"Waktu itu, Ki Ageng Gribig memohon maaf kepada santri dan tetangganya, karena tidak mampu membawa oleh-oleh yang banyak. Sebagai ucapan permintaan maafnya, akhirnya dibuatkan kue apem dalam jumlah banyak, agar merata," jelas Camat Agus.
Dari peristiwa tersebut, akhirnya di setiap bulan Safar awal, selalu ada tradisi sebar apem. Untuk memperingati haul Ki Ageng Gribig.
Untuk mengenang cikal bakal kue apem awal mulanya dari Jatinom, pihak Pemerintah Kecamatan akan berupaya membuat monumen apem.
"Monumen tersebut sebagai pengingat bahwa kue apem yang melegenda ini berasal dari Jatinom yang disebarkan oleh ulama besar waktu itu Ki Ageng Gribig," tandas Camat Agus.
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Z Creators