Atasi Food Waste, The Apurva Kempinski Bali Manfaatkan Maggot Olah 2 Ton Limbah Makanan per Hari
INDOZONE.ID - Food waste atau limbah makanan menjadi tantangan yang sulit dihindari dalam industri perhotelan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, The Apurva Kempinski Bali mengembangkan sistem pengelolaan limbah makanan berbasis ekonomi sirkular.
Pengolahan limbah makanan seperti ini dapat dimanfaatkan kembali secara berkelanjutan.
Apalagi jumlah food waste yang dihasilkan setiap harinya sangat besar, sehingga harus dikelola dengan baik dan ramah lingkungan.
Director of Hygiene, Safety, and Sustainability The Apurva Kempinski Bali Desak Intan mengatakan, pihaknya telah mengembangkan fasilitas food waste composter berkapasitas 300 kilogram per hari, dengan memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot untuk mengolah limbah makanan.
Baca juga: Wamenpar: Pengelolaan Sampah Jadi Kunci Jaga Daya Saing Pariwisata Bali
“Saat ini Bali menghadapi tantangan besar terkait sampah. Di The Apurva Kempinski Bali kami memiliki food waste composter dengan kapasitas 300 kilogram per hari,” ujarnya saat konferensi pers Path to Sustainable Growth 2026, secara daring, baru-baru ini.
Intan menyebut, selama total limbah makanan yang dihasilkan hotel setiap harinya mencapai sekitar 1.500 hingga 2.000 kilogram.
Sejak 2 tahun lalu, pengolahan maggot telah dilakukan, dengan memanfaatkan 2.000 kilogram limbah makanan per hari.
“Target kami adalah mencapai zero food waste karena kami tahu masih banyak limbah yang perlu diolah,” katanya.
Baca juga: Indonesia Raih Penghargaan Best Booth Design di SITF 2026 Korea Selatan
Sebagai bagian dari pengembangan ekonomi sirkular, kata Intan, baru-baru ini pihaknya akan memperkenalkan telur ayam kampung bebas kandang (cage-free egg) dari hasil pengelolaan sistem food waste.
“Rencana ini sebenarnya sudah kami sampaikan sejak tahun lalu. Prosesnya cukup panjang karena kami menunggu fasilitas komposter berbasis limbah buah selesai terlebih dahulu,” terangnya.
Ia menambahkan, konsep yang diterapkan ini dapat menciptakan siklus tertutup dalam pengelolaan limbah.
Limbah makanan diolah menjadi pakan maggot, kemudian maggot dimanfaatkan sebagai pakan ayam.
Baca juga: Mau Jemput Keluarga di Bandara? Cek Posisi Pesawatnya Secara Real-Time dengan Cara Ini
Disebutkannya, ayam yang diberi pakan maggot itu menghasilkan telur yang digunakan di dapur hotel.
Sementara sisa makanan dari dapur kembali diolah dalam komposter sehingga siklus terus berputar.
“Kami sangat bangga karena pada akhir Juni atau awal Juli nanti kami akan meluncurkan telur ayam kampung bebas kandang kami sendiri. Dalam proyek ini kami juga bekerja sama dengan vendor lokal. Bagi kami, keberlanjutan adalah sebuah perjalanan yang terus berkembang setiap tahun,” ujarnya.
Selanjutnya, food waste dari hotel ini juga sudah dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian lokal.
Baca juga: Bandara Dubai akan Ditutup Permanen Setelah 75 Tahun Beroperasi
Bekerja sama dengan Universitas Udayana dalam bidang pertanian dan pariwisata, mereka bersana-sama mengolah menjadi pupuk organik.
Pupuk yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah tidak hanya digunakan untuk kebun hotel, tetapi juga didonasikan kepada para petani.
General Manager The Apurva Kempinski Bali Vincent Guironnet menilai bahwa perjalanan keberlanjutan hotel selama ini berakar kuat pada pelestarian budaya Indonesia.
Hotel ini memiliki fondasi yang sangat kuat dari aspek budaya.
“Sejak awal, hotel ini dibangun dengan representasi budaya yang kuat, dan menjaga warisan tersebut menjadi salah satu hal terpenting bagi kami,” kata Vincent.
Baca juga: Jelang Libur Sekolah, Wamenpar Minta Pengelola Destinasi Wisata Lakukan Persiapan
Dia mengatakan, perjalanan keberlanjutan ini bermula dari langkah sederhana. Dulu para staff di sini menanam sendiri sayuran dan rempah-rempah di kebun rooftop hotel.
Dalam kesempatan ini, Head of Marketing and Public Relations The Apurva Kempinski Bali Charles Octaiano Seran menegaskan bahwa tantangan keberlanjutan saat ini tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja.
Tahun ini pihaknya memperluas cakupan diskusi agar tidak hanya berfokus pada industri pariwisata, tetapi juga melibatkan sektor keuangan, pertanian, pendidikan, ekonomi kreatif.
“Semuanya punya peran penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan